Pasar Keuangan Kembali Diguncang Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Kondisi pasar keuangan global pekan ini dibayangi meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Sentimen tersebut mendorong pelaku pasar mengambil sikap hati-hati yang tercermin dari pelemahan bursa saham global hingga tekanan terhadap aset berisiko, termasuk di pasar domestik.

Di Amerika Serikat, indeks saham utama pada perdagangan terakhir pekan lalu ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average turun 0,56 persen ke level 47.916,57, sementara S&P 500 terkoreksi tipis 0,11 persen ke 6.816,89. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,34 persen turut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi dan risiko global.

Fokus utama pasar saat ini tertuju pada perkembangan negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran yang berakhir tanpa kesepakatan pada Sabtu (11/4/2026). Situasi ini kembali memicu sengketa pada jalur distribusi pasokan energi global, terutama dari kawasan strategis seperti Selat Hormuz.

Harga minyak dunia pada Senin (12/4), kembali melonjak ke level 100 dolar AS per barel, dari pekan lalu yang stabil di kisaran 90 dolar AS per barel. Pagi ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pagi ini melonjak 8 persen ke harga 104 dolar AS per barel dan harga minyak mentah Brent naik hampir 7 persen ke 101 dolar AS per barel.

Chief Economist Mandiri Sekuritas, Andry Asmoro, dalam laporannya, menyatakan memantau dampak kenaikan harga energi pada ekonomi di AS sehingga memengaruhi pasar keuangan di sana.

Data terbaru menunjukkan, inflasi tahunan di AS meningkat menjadi 3,3 persen pada Maret 2026, tertinggi sejak pertengahan 2024. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga energi hingga 12,5 persen, termasuk bensin yang melonjak hampir 19 persen.

Tidak hanya itu, kepercayaan konsumen di AS juga merosot tajam. Indeks sentimen konsumen yang dirilis University of Michigan anjlok ke level 47,6 pada awal April, mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak ekonomi dari konflik yang berlangsung.

Dampak sentimen global mulai terasa di pasar keuangan Indonesia. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat 2,07 persen ke level 7.458,49 pada perdagangan Jumat (10/4/2026) dengan arus asing masuk Rp 194 miliar, tekanan diperkirakan akan terjadi dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Senin (12/4), IHSG dibuka di level 7.410. Mengutip RTI Business, sebelum pukul 10.00 WIB, pergerakan cenderung fluktuatif dengan level terendah 7.351 dan tertinggi 7.466. Berdasarkan sektornya, mayoritas sektor saham menghijau, kecuali sektor keuangan, kesehatan, dan teknologi.

Andry juga mencatat, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp 17.098 per dolar AS, terdepresiasi 2,4 persen sejak awal tahun, seiring penguatan dolar dan meningkatnya permintaan aset safe haven. "Pandangan kami, nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.020 hingga Rp 17.120," katanya.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun sekitar 3 persen dalam sebulan terakhir, ke level 6,5 persen untuk obligasi rupiah dan 5,3 persen untuk obligasi dalam bentuk dolar AS. Menurunnya imbal hasil menunjukkan aliran jual investor berkurang.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam analisisnya hari ini, menilai bahwa sentimen global awal pekan cenderung berhati-hati pada instrumen berisiko tinggi, setelah AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak akhir Januari 2026.

Baca JugaTrump Perintahkan Blokade Selat Hormuz

Sementara itu, permintaan terhadap dolar AS dan aset safe haven lain cenderung menguat. Kondisi ini akan ikut mendorong arus dana keluar dari pasar saham RI. Adapun, dari dalam negeri belum ada katalis positif baru yang cukup kuat untuk menahan sentimen global yang memburuk saat ini.

"Menurut kami, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) berpotensi terkoreksi hari ini, seiring tekanan lanjutan pada Rupiah di tengah menguatnya dolar AS dan kenaikan harga minyak," katanya.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menilai, pergerakan IHSG sendiri diperkirakan cenderung bercampur dengan kecenderungan konsolidatif, seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang masih beragam di tengah posisi indeks yang telah mengalami kenaikan pekan lalu.

Dari sisi sektoral, sektor energi diperkirakan tetap menjadi salah satu motor penggerak utama, ditopang oleh ekspektasi harga komoditas yang masih naik. Sementara itu, sektor transportasi laut juga menunjukkan penguatan lanjutan seiring membaiknya proyeksi permintaan dan tarif. 

Selain itu, pergerakan saham-saham konglomerasi yang mulai menunjukkan kenaikan dapat membuka peluang trading jangka pendek. Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk tetap selektif, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat.

"Tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat," kata Hari berpesan.

Kebijakan dalam negeri

Hari melanjutkan, investor masih perlu terus memantau faktor di dalam negeri. Menurutnya, ada dua katalis utama, yakni potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang saat ini tertekan di kisaran 17.000 terhadap dolar AS.

"Rencana pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi mencerminkan respons terhadap tren harga energi global yang masih tinggi, sekaligus upaya menjaga kesehatan fiskal dan keberlanjutan subsidi," katanya.

Namun demikian, kebijakan ini berpotensi memicu tekanan inflasi jangka pendek, khususnya pada komponen transportasi dan logistik, yang dapat berdampak lanjutan terhadap daya beli masyarakat serta margin sektor-sektor berbasis konsumsi.

Baca JugaHarga BBM Nonsubsidi Ditahan, Dampaknya Perlu Diantisipasi

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar yang cukup signifikan mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk menyiapkan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah. Langkah-langkah yang berpotensi ditempuh antara lain intervensi di pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan aliran dana masuk melalui insentif pasar keuangan.

"Upaya stabilisasi ini menjadi krusial mengingat depresiasi rupiah tidak hanya berdampak pada imported inflation, tetapi juga meningkatkan risiko outflow (dana arus keluar) asing dari pasar obligasi dan ekuitas domestik," katanya.

Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan penyesuaian harga energi dan stabilisasi nilai tukar akan mencerminkan pendirian pemerintah yang lebih pre-emptif dalam menjaga stabilitas makro ekonomi. Namun, pasar kemungkinan akan merespons dengan hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan arah kebijakan lanjutan. 

"Ke depan, efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik dan keberlanjutan aliran dana ke pasar keuangan Indonesia," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Targetkan Kapasitas Kilang Minyak Bumi Pulih hingga 80 Persen dalam Dua Bulan
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Bobol Rumah di Padang Timur, Pria Pengangguran Diringkus Tim Klewang di Rusunawa Purus
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Jangan Anggap Enteng Komponen Kaki-Kaki, Cermati Mana yang Cepat Rusak!
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Pasar Keuangan Kembali Diguncang Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Dua Kartu Merah Warnai Kekalahan Sassuolo 1-2 dari Genoa
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.