Selat Hormuz sempat diblokade oleh Iran saat perang dengan Amerika Serikat (AS)-Israel berkecamuk. Usai perundingan dengan Iran berakhir buntu, kini giliran AS yang mengancam memblokade Selat Hormuz.
Iran telah secara efektif memblokade Selat Hormuz selama berminggu-minggu, sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman terhadap republik Islam tersebut lebih dari enam minggu lalu. Meski begitu, Teheran telah mengizinkan kapal-kapal milik negara-negara sahabat untuk melintasinya, sementara melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara-negara agresor dan pendukungnya.
Parlemen Iran telah mengajukan rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit di selat tersebut dalam mata uang nasional. Secara eksplisit, Iran melarang kapal-kapal AS dan Israel melintas di Selat Hormuz.
Sebelum perang meletus, sekitar 20 juta barel minyak global biasanya melintasi jalur perairan penting tersebut setiap harinya. Karena blokade yang dilakukan Iran, memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
Dengan kata lain, tujuan Iran memblokade Selat Hormuz agar sebagai daya tawar karena negara Republik Islam itu sedang digempur habis-habisan oleh AS dan Israel.
Setelah harga minyak global meningkat karena blokade tersebut, AS dan Iran tiba-tiba menyetujui gencatan senjata selama dua minggu.
(isa/dhn)





