Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Hubungan Washington dan sekutu merenggang akibat perbedaan pandangan dalam menangani krisis Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa pemerintahannya akan melakukan peninjauan mendalam terhadap posisi dan kebijakan Amerika Serikat di dalam pakta pertahanan NATO, di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington dan para sekutu Eropanya.
Berbicara kepada awak media di Pangkalan Udara Andrews, Trump menyoroti ketimpangan beban finansial yang ditanggung Washington dibandingkan dengan kontribusi negara anggota lainnya.
Ia menilai alokasi dana triliunan dolar yang dikucurkan AS selama ini tidak berbanding lurus dengan dukungan politik yang diterima dari aliansi tersebut.
"Kita menghabiskan triliunan dolar untuk NATO guna membantu mereka berjaga-jaga terhadap Rusia. Jika Anda memikirkannya, kita sedang menjaga mereka dari Rusia. Sejak lama saya menganggap hal ini sedikit konyol.
Kita menghabiskan triliunan dolar untuk itu, dan saya rasa hal tersebut akan berada di bawah pemeriksaan yang sangat serius," ujar Trump sebagaimana dikutip dari laporan TASS Senin 13 April 2026.
Sentimen Kekecewaan Terhadap Isu Iran
Kritik tajam Presiden Trump dipicu oleh sikap pasif para anggota NATO dalam merespons ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump secara eksplisit menyatakan kekecewaannya karena merasa ditinggalkan oleh sekutu strategisnya di saat Washington memerlukan dukungan kolektif.
"Kita membayar triliunan dolar untuk NATO, namun mereka tidak ada di sana untuk kita," tegas Trump, merujuk pada dinamika situasi di Iran.
Ketika dikonfirmasi mengenai kemungkinan adanya langkah sanksi atau "hukuman" bagi anggota NATO tertentu yang menolak sejalan dengan kebijakan AS, Trump memilih untuk memberikan jawaban diplomatis namun penuh penekanan.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Saya sangat kecewa dengan NATO. Mereka tidak ada untuk kita," pungkasnya.
Hingga saat ini, markas besar NATO di Brussel belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana tinjauan kebijakan yang diwacanakan oleh Gedung Putih tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews





