Lebih Kecil dari Mikroplastik, Ecoton Temukan Nanoplastik pada Sperma dan Darah Manusia

suarasurabaya.net
11 jam lalu
Cover Berita

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) mengungkap temuan terbaru terkait keberadaan nano dan mikroplastik di dalam tubuh manusia. Dalam studi awal yang dilakukan pada Februari 2026, tim peneliti menemukan partikel plastik pada sperma manusia. Sementara riset lanjutan juga mendeteksi kontaminasi serupa dalam darah manusia.

Dalam empat sampel sperma yang diteliti, Ecoton menemukan 6-7 partikel mikroplastik berukuran 1,5–7,9 mikrometer dengan jenis polimer polyethylene di dalam sel sperma. Temuan itu, kata Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton pada Senin (13/3/2026), mengkhawatirkan karena bisa memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan kesuburan.

Selain pada sistem reproduksi, Ecoton juga meneliti 30 subjek perempuan yang terdiri dari 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa yang berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan, dan Malang. Dari penelitian tersebut, ditemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik dalam setiap 1 mililiter darah.

Untuk memastikan ukuran partikel yang sangat kecil, Ecoton berkolaborasi dengan Scientific Imaging Centre (SIC) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan teknologi Scanning Electron Microscope (SEM). Alat tersebut mampu mendeteksi material hingga ukuran 10 nanometer.

“Dengan menggunakan SEM kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer,” kata Rafika kepada suarasurabaya.net.

Rafika menyebut, jenis nanoplastik yang ditemukan dalam penelitiannya yakni berupa fiber dan fragmen.

Prigi Arisandi, Manager Science, Art and Communication Ecoton menjelaskan, ukuran partikel plastik yang sangat kecil memungkinkan benda tersebut masuk ke sistem peredaran darah manusia.

“Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran di bawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter,” jelasnya.

Menurutnya, jika plastik masih berukuran milimeter maka tidak bisa masuk ke eritrosit atau sel darah merah. Namun bila ukurannya di bawah 5 mikrometer, partikel itu berpotensi masuk ke dalam eritrosit dan beredar ke seluruh tubuh.

Temuan lain menunjukkan polimer yang paling dominan dalam darah adalah polyester sebesar 28 persen. Selain itu juga ditemukan Polyisobutylene 24 persen, Polyethylene (PE, LDPE, HDPE) total 32 persen, serta PET 16 persen.

Ecoton menilai dominasi polyester mengarah pada limbah industri tekstil dan serat sintetis dari pakaian sehari-hari yang terlepas saat pencucian, lalu mencemari lingkungan dan masuk ke tubuh manusia.

“Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan nano dan mikroplastik di dalam darah berisiko memicu kerusakan sel darah merah, gangguan sistem imun, pembentukan gumpalan darah, hingga mempercepat penuaan sel.

Temuan itu, tegas dia, menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan publik karena plastik kini tak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi telah masuk ke darah serta sistem reproduksi manusia.(ris/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
GKR Hayu: Bangunan Keraton Harus Dijaga Nilainya, Bukan Sekadar Tempat Ngonten
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas UBS, Antam, dan Galeri24 di Pegadaian Stabil pada Perdagangan Senin Pagi
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Jubir JK Klarifikasi Ceramah Viral: Konteks Pembelajaran Damai Konflik Poso-Ambon
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Cuma Rp8.000! Ini Cara Murah Liburan dari Jakarta ke Purwakarta Pakai Kereta
• 2 jam laludisway.id
thumb
Mobil Listrik Kompak Honda Terbaru Akan Buka Pra-Pesan 3 Hari Lagi
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.