Honda bersiap membuka waktu pemesanan untuk mobil listrik (EV) kompak terbarunya, Honda Super-One, di pasar Jepang mulai Kamis, 16 April 2026
Setelah debut di kandangnya, mobil yang dibangun dari basis kei car N-One e: ini dijadwalkan meluncur di pasar Eropa, khususnya Inggris, pada bulan Juli dengan nama Super-N.
Meski menggunakan basis desain yang sama, Super-One dibekali motor listrik yang telah disesuaikan agar mumpuni melibas kondisi jalanan yang lebih lebar dan dinamis di luar Jepang.
Secara standar, tenaga harian mobil ini dipertahankan pada angka 64 PS (47 kW) dengan torsi 162 Nm. Namun, daya tarik utamanya terletak pada tombol Boost Mode di lingkar kemudi.
Saat tombol ini ditekan, sistem akan melepaskan tenaga penuh hingga 95 PS (70 kW) sekaligus mengaktifkan paddle shift untuk transmisi simulasi 7-percepatan. Sensasi berkendara ini dirancang menyerupai fitur serupa pada mobil performa tinggi seperti Hyundai Ioniq 5 N.
Namun, tenaga ekstra tersebut berdampak pada jarak tempuh, diperkirakan tetap menggunakan baterai 29,6 kWh bawaan N-One e, Super-One hanya mencatatkan jarak tempuh 205 km berdasarkan siklus WLTP (Eropa), atau 275 km pada siklus pengujian Jepang yang lebih longgar.
Untuk pengisian daya, mobil ini mendukung fast charging DC berkapasitas 50 kW yang mampu mengisi daya 20% ke 80% dalam waktu 30 menit. Selain itu, tersedia opsi pengisian daya AC wallbox 6 kW yang membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam hingga penuh.
Mobil ini sangat diuntungkan oleh bobotnya yang sangat ringan untuk ukuran EV, yakni hanya 1.090 kg.
Sistem hiburannya mengandalkan layar sentuh 9 inci yang mendukung Apple CarPlay dan Android Auto, dipadukan dengan panel instrumen digital 7 inci. Mobil ini dilengkapi tata suara premium Bose dengan 8 speaker dan subwoofer 13,1 liter di bawah lantai bagasi—sebuah fitur perdana untuk jajaran mobil kompak Honda.
Mungkinkah Super-One mengaspal di kawasan Asia Tenggara? Peluang itu sempat terlihat besar beberapa bulan lalu setelah versi prototipenya tertangkap kamera sedang diuji coba di jalanan Malaysia pada November silam.
Namun, aturan baru pemerintah negeri jiran tersebut yang mematok batas harga minimal RM250.000 (sekitar Rp 840 juta) untuk penjualan mobil listrik berstatus CBU (impor utuh) tampaknya akan menjegal peluncuran model kompak ini di wilayah tersebut.
Laporan dari Paultan menyebut hingga kini belum ada kepastian apakah unit ini akan menembus pasar negara Asia Tenggara lainnya di tengah ketatnya persaingan harga EV global.





