Lebih Efisien dari Tebu? BRIN Ciptakan Mesin Gula Semut Sorgum Khusus UMKM

matamata.com
3 jam lalu
Cover Berita

Matamata.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis. Inovasi ini hadir sebagai upaya menyediakan sumber gula alternatif sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal di Indonesia.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena fleksibilitasnya. Meski selama ini belum dimanfaatkan optimal, sorgum berpotensi besar sebagai bahan baku pangan hingga energi.

"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi pemanfaatannya lebih fleksibel. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," ujar Sandi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (13/4).

Sandi mengakui kandungan gula sorgum (11–15 persen) memang lebih rendah dibanding tebu. Namun, tanaman ini tetap sangat menjanjikan untuk skala petani dan usaha kecil.

Proses Produksi yang Terintegrasi Pengolahan gula semut ini dilakukan melalui rangkaian mesin terintegrasi, mulai dari pemerasan batang hingga pengemasan. Tahap pertama dimulai dengan mesin roller press untuk mengekstraksi nira. Dari 100 kg batang sorgum, rata-rata dihasilkan 20 liter nira, tergantung kondisi lingkungan tanaman.

Selanjutnya, nira diolah melalui dua metode:

Vacuum Evaporator: Menggunakan sistem tertutup dengan suhu rendah (60–70°C) untuk menghasilkan sirup atau gula cair sorgum.
Open Pan Cooker: Digunakan untuk memproduksi gula semut dengan suhu 90–100°C guna mencapai kadar air 5–6 persen hingga terbentuk kristal.

"Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam," tambah Sandi. Setelah dimasak, gula dikeringkan dalam oven dehydrator dan dihaluskan menggunakan mesin crusher hingga menjadi butiran siap kemas.

Salah satu nilai jual teknologi BRIN ini adalah efisiensi energi. Berbeda dengan cara tradisional yang menggunakan kayu bakar, mesin ini menggunakan gas yang lebih hemat dan suhu panasnya mudah dikontrol. Selain itu, material alat sudah menggunakan stainless steel tipe food grade sehingga lebih higienis.

Desain alat yang dibuat modular juga memudahkan mobilitas, sehingga sangat cocok bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau kelompok tani di daerah dengan kapasitas maksimal 30 liter nira per proses.

Baca Juga
  • Prabowo ke Rusia, Boyong Bahlil Lahadalia Demi Amankan Pasokan Minyak Nasional

Tantangan di Sektor Hulu Meski teknologi sudah mumpuni, Sandi menekankan bahwa tantangan terbesar ada pada konsistensi budi daya sorgum. Minat petani masih sangat bergantung pada nilai ekonomi jika dibandingkan dengan jagung atau padi.

BRIN berharap, dengan adanya teknologi yang mampu meningkatkan harga jual produk olahan ini, ekosistem sorgum dari hulu ke hilir dapat terbentuk secara berkelanjutan.

"Jika bahan bakunya tersedia dan industrinya berjalan, maka rantai nilai sorgum ini bisa berkembang pesat," pungkasnya. (Antara)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Memanas Lagi usai Negosiasi AS-Iran Gagal
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Ibu dan Anak Tewas Usai Ditabrak Bus AKAP di Kampung Rambutan, Alami Luka Berat
• 43 menit lalutvonenews.com
thumb
Trump Tantrum, Perintahkan Angkatan Laut AS Blokir Selat Hormuz
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tidak Terima Ditertibkan Dedi Mulyadi, Kades Ini sampaikan Permintaan Khusus untuk 40 Relawan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Rupiah Berpotensi Melemah usai Perundingan AS-Iran Buntu
• 7 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.