Pada 11 April 2026, beberapa jam setelah sebuah kapal Yunani melintasi Selat Hormuz, dua kapal tanker super asal Tiongkok yang mengangkut minyak mentah juga melewati selat tersebut. Selain itu, otoritas Qatar mengumumkan bahwa aktivitas pelayaran di perairan teritorialnya, yang sebelumnya dihentikan akibat konflik Iran, akan kembali beroperasi mulai 12 April.
EtIndonesia. Laporan Bloomberg News menyebutkan bahwa sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari yang menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz terhenti, tanggal 11 April menjadi hari dengan volume ekspor minyak mentah tertinggi melalui selat tersebut. Ini juga merupakan kapal-kapal pertama yang meninggalkan Teluk Persia sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu.
Ketiga kapal tanker tersebut secara total mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah. Namun, minyak tersebut bukan berasal dari Iran dan tidak memiliki keterkaitan langsung yang jelas dengan negara tersebut.
Dua kapal tanker Tiongkok yang dimaksud bernama Cospearl Lake dan He Rong Hai, yang merupakan kapal pertama dari Tiongkok yang terlihat mengangkut minyak mentah keluar dari Teluk Persia sejak konflik dimulai. Kapal pertama memuat minyak di Irak, sementara kapal kedua di Arab Saudi. Kapal Yunani Serifos juga memuat minyak di Arab Saudi.
Sementara itu, Kementerian Transportasi Qatar menyatakan bahwa aktivitas pelayaran di perairan negaranya yang sempat dihentikan akibat konflik Iran akan kembali dibuka mulai 12 April.
Dalam pernyataannya disebutkan bahwa semua jenis kapal dan alat transportasi laut diizinkan beroperasi antara pukul 06.00 hingga 18.00 waktu setempat. Kapal nelayan yang memiliki izin tetap dapat beroperasi sepanjang waktu seperti biasa.
Kementerian juga memperingatkan agar para pelaku usaha tidak memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar, serta menekankan pentingnya mematuhi hukum maritim dan perlindungan konsumen.
Laporan dari CNN menyebutkan bahwa meskipun Qatar telah memulihkan pelayaran di perairannya, hal ini tidak berarti kebebasan navigasi di Selat Hormuz telah sepenuhnya pulih.
Saat ini, Iran yang secara de facto mengendalikan Selat Hormuz, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait adanya koordinasi dengan Qatar.
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat telah mengumumkan bahwa dua kapal perang Angkatan Laut AS telah melewati jalur strategis tersebut untuk menjalankan misi pembersihan ranjau laut.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran pada 12 April melaporkan bahwa Garda Revolusi Islam memperingatkan akan mengambil tindakan “tegas” terhadap kapal militer mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Menurut pernyataan tersebut, Selat Hormuz hanya mengizinkan kapal sipil untuk melintas dalam “kondisi tertentu”.
Sumber : NTDTV.com





