Ramalan Rebound Aset Kripto pada Kuartal II/2026

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Tokocrypto optimistis kinerja transaksi aset kripto akan membaik pada kuartal II/2026, seiring dengan potensi stabilisasi kondisi makroekonomi dan geopolitik global.

ETF Bitcoin sempat mencatat arus masuk atau inflow sebesar US$1,13 miliar pada Maret, tren tersebut melemah dengan outflow mingguan mencapai US$296 juta pada akhir bulan. Memasuki awal April, inflow kembali tercatat sekitar US$69,6 juta, menunjukkan minat institusi masih ada namun belum cukup kuat untuk mendorong reli pasar. 

Tak hanya itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp24,33 triliun, menurun dibandingkan Januari yang mencapai Rp29,28 triliun. Penurunan ini sejalan dengan koreksi harga sejumlah aset kripto global serta dinamika ekonomi internasional.

Baca Juga : CFX Pacu Literasi Kripto di Kalangan Anak Muda, Tekan Risiko FOMO

CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai momentum Bulan Literasi Kripto (BLK) yang berlangsung pada April hingga Mei 2026 akan dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap kripto.

Dia juga melihat edukasi sebagai kunci utama dalam menjaga keberlanjutan industri, terutama di tengah kondisi pasar yang cenderung bearish seperti saat ini.

Ia juga menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap aset kripto masih relatif tinggi. Hingga Februari 2026, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 21,07 juta, tumbuh 1,76% secara bulanan. Tokocrypto sendiri memiliki sekitar 4,8 juta pengguna dengan nilai transaksi lebih dari US$1,5 miliar pada kuartal I/2025, mencerminkan basis investor dengan nilai transaksi yang besar. 

“Kami masih optimistis kinerja transaksi akan membaik pada kuartal II/2026, seiring dengan potensi stabilisasi kondisi makroekonomi dan geopolitik global,” ujarnya melalui keterangan resmi, Senin (13/4/2026).

Sejauh ini, dia menilai pelemahan transaksi kripto merupakan bagian dari siklus pasar. Menurutnya pasar kripto saat ini memasuki fase konsolidasi setelah mengalami lonjakan signifikan pada periode sebelumnya.

Kondisi ini ditandai dengan koreksi harga dan penurunan volume transaksi, yang juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, termasuk tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Calvin menambahkan bahwa faktor global seperti meningkatnya tensi geopolitik mendorong sentimen risk off di pasar keuangan, sementara kebijakan suku bunga tinggi memicu likuidasi pada posisi leverage di pasar kripto. Hal ini berdampak langsung pada penurunan volume transaksi.

Sejalan dengan dorongan OJK untuk memperkuat industri kripto, Tokocrypto terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya melalui penambahan kanal deposit baru dengan menggandeng bank BUMN supaya akses ke pasar kripto semakin mudah dan inklusif. 

“Dengan lebih banyak pilihan metode pembayaran, kami berharap dapat menstimulus investor untuk kembali aktif bertransaksi,” kata Calvin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kualitas Udara Jakarta Jadi yang Terburuk di Indonesia pada Awal Pekan Ini
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Realisasi KPR Subsidi BRI (BBRI) Tembus Rp17,13 Triliun per Maret 2026
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Imbas Kabel Optik Menumpuk, Tiang Listrik di Jakbar Ambruk
• 18 jam laluokezone.com
thumb
9 Purnawirawan TNI Gugat Polda Metro di Kasus Ijazah Jokowi, Minta Penyidikan Diperbaiki
• 3 jam lalukompas.com
thumb
2.000 ASN Ikuti Pelatihan Komcad di Fasilitas Militer selama 1,5 Bulan
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.