JAKARTA, DISWAY.ID - Potongan ceramah Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) jadi viral di media sosial saat penjelasan mati syahid antara agama Islam dan Kristen di Universitas Gadjah Mada saat Ramadan lalu.
Saat itu, Jusuf Kalla mengisi ceramah tarawih Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta, pada Kamis, 5 Maret 2026 lalu.
BACA JUGA:Ketika Isi Ceramah Jusuf Kalla Dipersoal, GAMKI dan Pemuda Katolik: Harus Diselesaikan Secara Hukum
BACA JUGA:Jusuf Kalla Dilaporkan Buntut Ceramah Soal Mati Syahid di UGM
Adapun dalam isi ceramahnya, Jusuf Kalla menyinggung sentimen agama sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial sebagaimana saat dia terjun langsung mendamaikan sejumlah konflik di Ambon dan Poso.
"Islam dan Kristen berpendapat, mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan itu syahid. Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid, kalau saya mati pun saya syahid," kata JK dikutip Disway.id di akun Youtube Masjid Kampus UGM, Senin, 13 April 2026.
Jubir MeluruskanMerespons pernyataan itu, juru bicara JK, Husain Abdullah, meluruskan potongan isi ceramah itu. Husain menegaskan bahwa potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan isi ceramah yang disampaikan.
Menurutnya, ada kesalahan penafisran sejumlah pihak atas beredarnya potongan video ceramah JK di media sosial.
Husain menambahkan, JK tidak sedang memberikan khotbah soal ajaran teologi Kristen maupun Islam. Menurutnya, JK hanya menyampaikan realitas sosiologis yang terjadi saat konflik bernuansa SARA di Poso dan Ambon pada awal masa reformasi pada 2000-2002 lalu.
"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci' dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid. Itu fakta sejarah, bukan pendapat pribadi Pak JK," tegas Husain.
BACA JUGA:Jangan Hanya Didenda, Pemilik Perusahaan Pelanggar Izin Kawasan Hutan Rp11, 4 T Wajib Diadili!
Husain memastikan, fakta itu dapat dikonfirmasi kepada para tokoh yang terlibat dalam proses perundingan damai konflik Poso dan Ambon.
Ia menegaskan, tujuan ceramah JK untuk mengkritik dan meluruskan pemahaman keliru di tengah konflik saat itu.
Husain menambahkan, saat itu JK yang turun langsung mendamaikan konflik menjelaskan kepada kedua pihak bahwa kekerasan yang terjadi tidak dapat dibenarkan sebagai perang suci.
“Dalam banyak kesempatan, Pak JK menjelaskan bagaimana mengubah pemahaman kedua pihak bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah perang suci dan tidak akan membawa mereka ke surga, melainkan sebaliknya. Kekerasan yang terjadi sudah melampaui batas kemanusiaan karena menelan korban anak-anak, perempuan, dan orang tua,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, konflik Poso dan Ambon terjadi sekitar 27 tahun lalu atau tepatnya pada 1998-2001, yang dikenal sebagai konflik bernuansa SARA dengan menelan banyak korban jiwa. Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, sekitar 2.000 orang tewas dalam konflik Poso dan sekitar 5.000 orang meninggal dalam konflik Ambon.
- 1
- 2
- 3
- »





