Insentif Mobil dan Motor Listrik Masih Dikaji, Pemerintah Libatkan GAIKINDO dan Industri

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
DKI Jakarta: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pemerintah masih mengkaji skema insentif untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Pembahasan tersebut dilakukan bersama sejumlah otoritas dan pelaku industri otomotif.
 
Untuk mobil listrik, Purbaya mengungkapkan pihaknya telah berdiskusi dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
 
“Gaikindo mengundang mau pameran mobil, tapi juga diskusi misalnya kalau perlu insentif, insentif seperti apa untuk mobil listrik dan lain-lain,” kata Purbaya dikutip dari Antara.

Menurutnya, pembahasan terkait insentif mobil listrik bersama Gaikindo belum selesai dan akan dilanjutkan dalam pertemuan berikutnya.
 
Baca Juga: Daftar Harga Mobil Sedan Toyota per April 2026
 
Sementara itu, terkait insentif untuk motor listrik, Purbaya mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Insentif tersebut nantinya direncanakan menyasar motor listrik generasi terbaru.
 
“Saya masih akan bicarakan dengan Menteri Perindustrian, kira-kira akan ada insentif untuk motor listrik yang baru,” tuturnya.
 
Hal serupa juga disampaikan Agus Gumiwang. Ia menegaskan pembahasan mengenai insentif motor listrik masih berlangsung bersama Kementerian Keuangan.
 
"Masih dibicarakan," kata Menperin ditemui di Jakarta, Kamis (9/4).
 
Baca Juga: Honda Waspadai 'Badai' Krisis Plastik
 
Agus menambahkan pemerintah saat ini tengah menyiapkan regulasi untuk mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik, khususnya sepeda motor. Meski demikian, produksi sepeda motor konvensional tidak akan dihentikan. Kendaraan tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional.
 
Ia juga menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kendaraan di masa depan akan beralih ke listrik seiring meningkatnya kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
 
“Ya, karena memang sekarang semakin kelihatan kepentingannya untuk itu, untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil. Jadi memang tidak ada pilihan lain bahwa kita harus convert ke listrik,” katanya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gerai Teh Susu China Membludak di Asia Tenggara, Ekspansi Bergeser ke AS dan Korsel
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Reuters Ungkap : Pemimpin Baru Iran Mojtaba Alami Luka Parah, Wajah Rusak dan Kaki Putus
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Waka MPR Lestari: Darurat Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Harus Diatasi
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Kenapa Kerry Anak Riza Khalid dkk Laporkan 4 Hakim yang Mengadilinya?
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Jadwal Final Four Proliga 2026 Pekan Ini: Dimulainya Seri Semarang, Penentuan Nasib Megawati Hangestri Cs Lolos ke Grand Final
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.