PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program corporate shared value (CSV) menggelar pelatihan bertajuk “Belajar Cerdas Angka ala GASING (Gampang Asik dan Menyenangkan)” di Kabupaten Aceh Tamiang.
Program ini diselenggarakan bersama Gasing Academy dan diikuti oleh sekitar 50 siswa serta 10 guru dari empat Sekolah Dasar (SD). Kegiatan berlangsung di Aula SMP 1 Kualasimpang, Aceh Tamiang, pada 2 hingga 12 April 2026.
Metode GASING yang digunakan dalam pelatihan ini merupakan pendekatan pembelajaran berhitung yang dikembangkan oleh Yohanes Surya. Metode tersebut menekankan proses belajar yang interaktif melalui berbagai aktivitas seperti permainan, lagu, serta kolaborasi antara siswa dan guru.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan program ini dihadirkan untuk meningkatkan semangat belajar sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak di Aceh Tamiang, terutama dalam masa pemulihan pascabencana.
“Ketika bisa menghadirkan environment guru-guru yang mungkin bisa dekat, bisa memberikan trik-trik, menikmati pelajaran berhitung, itu bisa menumbuhkan anak-anak menjadi sesuatu yang suka dengan matematika,” kata Hera dalam acara “Belajar Cerdas Angka ala Gasing” di SMP 1 Kualasimpang, Aceh Tamiang, Senin (13/4).
Hera berharap, pelatihan ini tidak hanya membantu siswa mengejar ketertinggalan pembelajaran, tetapi juga membangun kembali antusiasme serta kepercayaan diri mereka. Selain itu, metode GASING dinilai mampu melatih kemampuan logika dan penalaran siswa yang semakin dibutuhkan dalam sistem pembelajaran saat ini.
“Jadi ya mudah-mudahan (program GASING) di Aceh Tamiang ini menjadi salah satu basis yang bisa memberikan anak-anak cerdas, pintar, logic berpikirnya,” ucap Hera.
Sementara itu, pencetus metode pembelajaran GASING, Yohanes Surya, menjelaskan kemampuan menghitung cepat yang dihasilkan dalam metode tersebut sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan hanya sebagai bonus dari proses pembelajaran.
Ia menjelaskan, fokus utama metode GASING adalah melatih delapan kompetensi utama atau 8C, yakni critical thinking, creativity, collaboration, communication, computational logic, character, compassion, dan culture.
“Nah (8C) itu sebenarnya semua yang kita latih. Nah dari situ, terbentuklah menghitung cepat. Jadi kita gunakan menghitung cepat itu sebagai tool untuk mengembangkan 8C itu,” kata Yohannes dalam kesempatan yang sama.
Selain itu, Yohanes menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan juga mengintegrasikan kearifan lokal, seperti lagu dan permainan daerah. Dalam praktiknya, berbagai permainan tradisional dimanfaatkan sebagai media pembelajaran agar lebih dekat dengan kehidupan anak-anak.
“Nah local wisdom-nya itu kita pakai lagu-lagu daerah. Kenapa? Anak-anak itu deket sekali kalau (lagu) daerah yang diikut. Jadi waktu dulu itu ternyata nyambungnya cepat sekali dan buat anak belajar itu menyenangkan,” sebut Yohanes.
Yohannes menuturkan penggunaan unsur budaya merupakan bagian penting dalam pembelajaran, karena dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap budaya sekaligus mendukung pengembangan aspek “culture” dalam konsep 8C.
Adapun program yang termasuk dalam Bakti BCA ini diikuti oleh siswa dan guru dari SD Negeri 1 Kualasimpang, SD Negeri 2 Kualasimpang, SD Negeri 4 Kualasimpang, serta SD Negeri Kota Lintang.
Program serupa sebelumnya juga telah dilaksanakan oleh BCA di berbagai daerah, antara lain di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, serta Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.





