Guru Besar dari Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai bahwa strategi pertumbuhan tidak bisa lagi bertumpu pada satu sektor dominan. Dibutuhkan kombinasi antara sektor tradisional dan sektor bernilai tambah tinggi agar mesin ekonomi dapat bekerja optimal.
Baca juga: Pemerintah Jaga Rasio Utang di 40 Persen, Defisit Tetap 3 Persen
Sektor manufaktur masih menjadi fondasi utama. Dengan kontribusi sekitar 19–20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), industri pengolahan perlu didorong tumbuh lebih cepat dari rata-rata ekonomi nasional.
Fokusnya, menurut Rahma, adalah mempercepat hilirisasi sumber daya alam, mulai dari nikel, tembaga, hingga bauksit agar tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan sebagai produk bernilai tambah.
Lebih jauh, pengembangan ekosistem industri baterai dan perakitan kendaraan dalam negeri juga dinilai strategis, terutama dalam mendukung posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Kebangkitan sektor pertanian Di sisi lain, sektor pertanian mulai menunjukkan tanda kebangkitan sebagai sumber pertumbuhan baru. Setelah lama tumbuh di bawah 2 persen, sektor ini mencatat pertumbuhan di atas 5 persen pada 2025. Momentum ini, kata Rahma, harus dijaga melalui reformasi distribusi pupuk dan modernisasi alat pertanian.
Program lumbung pangan dan stabilisasi harga juga menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong permintaan domestik.
Berbicara soal daya beli, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB. Oleh karena itu, stabilitas harga, khususnya pangan, dan penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas utama.
Percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun juga dinilai krusial. Proyek infrastruktur seperti irigasi, waduk, jalan, dan jembatan bukan hanya memperbaiki konektivitas, tetapi juga menciptakan efek berganda melalui program padat karya.
Masuknya investasi asing langsung (FDI) juga menjadi faktor penting. Selain memperbesar kapasitas produksi, investasi ini berpotensi menciptakan lapangan kerja formal dalam skala besar.
Sementara itu, sektor energi hijau mulai mengambil peran strategis. Program biodiesel B50 yang dijadwalkan berjalan pada Juli 2026 diproyeksikan mampu menghemat anggaran hingga Rp48 triliun jika diimplementasikan secara efektif.
Tak kalah penting, sektor teknologi dan ekonomi digital dipandang sebagai sumber pertumbuhan masa depan. Dengan karakter pertumbuhan yang eksponensial, sektor ini berpotensi menjadi motor baru ekonomi nasional. Optimisme Pemerintah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya juga menegaskan optimisme pemerintah terhadap prospek pertumbuhan. Ia menyebut fundamental domestik Indonesia masih kuat, terutama dari sisi konsumsi.
Dari perspektif fiskal, kinerja anggaran negara menunjukkan tren positif. Hingga kuartal I 2026, penerimaan pajak tumbuh 14,3 persen menjadi Rp462,7 triliun. Sektor manufaktur pun masih berada dalam fase ekspansi.
Ketahanan pangan juga relatif terjaga, dengan produksi beras mencapai 34,7 juta ton pada 2025 dan cadangan di Perum Bulog sekitar 4,6 juta ton.
Pemerintah, lanjut Airlangga, berkomitmen menjaga stabilitas fiskal dengan mempertahankan rasio utang di kisaran 40 persen terhadap PDB atau jauh di bawah batas maksimal 60 persen. Defisit anggaran pun ditargetkan tetap terkendali di sekitar 3 persen.
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan dorongan lintas sektor, target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen bukanlah sesuatu yang mustahil. Tantangannya kini terletak pada konsistensi implementasi dan kemampuan menjaga momentum di tengah dinamika global yang terus berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)




