JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis hakim mendalami soal harga laptop berbasis Chromebook yang fluktuatif selama Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim menjabat, yaitu sekitar tahun 2019 dibandingkan dengan saat ini.
Hal ini didalami beberapa hakim ketika Auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sekaligus Ketua Tim Penghitungan Kerugian Negara Kasus Chromebook, Dedy Nurmawan Susilo diperiksa dalam sidang lanjutan kasus dugaan pengadaan laptop berbasis Chromebook.
“Saya baca dari WhatsApp-nya Jurist Tan (dulu Staf Khusus Menteri) yang saat sampai saat ini masih kabur, salah satunya karena laptop Chromebook itu murah, paling Rp 3 jutaan,” ujar Hakim Anggota Andi Saputra dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Nadiem Mengaku Takut Usai Dengar Kesaksian Auditor BPKP, Ada Apa?
Hakim menyinggung soal kesaksian Eks Konsultan Teknologi sekaligus terdakwa dalam berkas terpisah, Ibrahim Arief yang mengaku pernah membeli laptop Chromebook seharga Rp 2 jutaan pada November 2022 alias setelah pengadaan selesai.
“Pertanyaan saya, mengapa terjadi fluktuasi harga yang semakin tidak jelas ini ketika sebelum ada proyek Rp 3 jutaan, masuk proyek melambung Rp 6 juta yang hanya ditawar Rp 300.000. Kemudian setelah selesai ada informasi kesaksian bahwa Rp 2 juta saja sudah dapat, seperti itu bagaimana?” tanya Hakim Andi.
Baca juga: Hakim Soroti Auditor BPKP Sidang Nadiem Pernah Hitung Kerugian Kasus BTS 4G Johnny Plate
Dedy mengatakan, dia tidak mengetahui kondisi yang dijelaskan oleh majelis hakim secara spesifik.
Tapi, berdasarkan dokumen impor yang didapatkan BPKP, harga laptop Chromebook ini berkisar antara Rp 2,5 juta-Rp 2,8 juta.
“Berdasarkan dokumen pabean, dokumen impor ya, yang kami peroleh dari Jasa Bea Cukai memang harga CKD-nya, harga masuknya nilai barang ini dari luar negeri, ada dua produsen utama Pegatron dan Quanta, itu berkisar di Rp 2,5 juta sampai dengan Rp 2,8 juta sekian,” jelas Dedy.
Berdasarkan data yang dimiliki BPKP, harga ini banyak dianggap sebagai bahan baku para produsen Chromebook di dalam negeri.
Dedy mengaku tidak tahu pasti alasan harga Chromebook dijual lebih murah dari angka yang disinggungnya.
Menurut Dedy, ada banyak kemungkinan harga Chromebook anjlok.
“Apakah dia ngabisin stok, stok lama, atau mungkin dia impor langsung dari luar negeri dalam bentuk jadi sehingga tidak perlu biaya perakitan lagi di dalam negeri sehingga harganya lebih murah. Itu bisa jadi seperti itu,” imbuhnya.
Baca juga: Sidang Chromebook Memanas, Pengacara Emosi ke Auditor BPKP: Hukum Saja Nadiem Sekarang
Dedy berpendapat, harga Chromebook jadi lebih mahal saat pengadaan berlangsung kemungkinan karena ada permintaan yang tinggi. Hal ini sejalan dengan teori demand-pull inflation.
“Ketika permintaan tadi tinggi, makanya saya tadi sebutkan, ada intervensi permintaan yang tinggi dengan harga yang sudah dipatok, maka itu akan membuat harganya menjadi tinggi,” jelasnya.
Harga Chromebook pun bisa turun kembali setelah pengadaan selesai.





