Banyak Kepala Daerah Terjaring OTT, ICW Soroti Biaya Politik hingga Lemahnya Pengawasan

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyoroti maraknya operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) awal 2026.

Setidaknya sudah ada enam kepala daerah yang terjaring OTT KPK, Jumlah tersebut menambah daftar panjang kepala daerah hasil Pilkada 2024 yang tersangkut kasus korupsi.

Menurut Seira, penyebab banyaknya kasus tersebut tak lain adalah persoalan politik yang berbiaya tinggi.

“Persoalan politik yang berbiaya tinggi memang tidak terlepas dari banyaknya kasus korupsi yang menjerat para politisi, tidak terkecuali kepala daerah. Ini bisa diketahui dari uang hasil korupsi kepala daerah yang justru digunakan untuk kebutuhan kampanye atau bahkan melunasi hutang kebutuhan kampanye,” ujar Seira dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

Baca juga: KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Tersangka, Ada Modus Pemerasan Surat Sakti

Ia menjelaskan, praktik korupsi kerap berkaitan erat dengan kebutuhan pembiayaan politik. Uang hasil korupsi tidak jarang digunakan untuk kepentingan kampanye atau bahkan melunasi utang politik.

Seira mencontohkan kasus yang melibatkan mantan Bupati Lampung, Ardito Wijaya, yang mengaku meminta fee proyek sebesar 15–20 persen dengan total penerimaan mencapai Rp 5,75 miliar.

Menurut ICW, tingginya biaya politik dalam pilkada tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan resmi dana kampanye. Hal ini diduga karena sebagian besar biaya justru dialokasikan untuk praktik ilegal, seperti mahar politik kepada partai dan politik uang.

Baca juga: Profil Gatut Sunu Wibowo, Bupati Tulungagung yang Peras OPD sampai Terkumpul 2,7 Miliar

“Hal ini patut diduga terjadi, sebab pengeluaran kampanye yang dicantumkan di dalam laporan resmi penerimaan dan pengeluaran dana kampanye para kepala daerah justru menunjukkan jumlah yang tidak terlalu besar,” kata Seira.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Lemahnya Pengawasan

Faktor pengawasan juga dinilai berkontribusi. Seira menilai lemahnya independensi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) membuat fungsi kontrol tidak berjalan optimal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhaj soal Wacana War Ticket Haji: Kalau Prematur, Kita Hentikan
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Jamaah Calon Haji Jalani Vaksinasi di Puskesmas Cilincing
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
BGN Beri Tanggapan Terkait Anggaran Rp113 Miliar untuk Jasa EO
• 22 jam lalunarasi.tv
thumb
LPKR Beberkan Alasan Akuisisi Lippo Plaza Baubau Senilai Rp157 Miliar
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
KAI Commuter Tutup Sementara Peron Jalur 6-8 Stasiun Bogor Mulai Besok
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.