tvOnenews.com - Kisah mengharukan datang dari seorang ibu penjual kopi bernama Ceu Nining yang bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Di balik ancaman penggusuran tempat tinggalnya, ia justru menyimpan rasa syukur mendalam karena anaknya bisa melanjutkan pendidikan tinggi berkat bantuan Kang Dedi.
Pertemuan antara Ceu Nining dan Dedi Mulyadi terjadi saat sang gubernur melakukan peninjauan di sebuah kawasan yang berdiri bangunan liar di atas tanah milik pemerintah.
Di lokasi tersebut, Ceu Nining menjalankan usaha kecil berupa warung kopi sederhana yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Ia mengaku, warung tersebut menjadi satu-satunya tumpuan ekonomi.
Setiap hari, ia melayani para pengunjung lapangan yang datang, termasuk mereka yang menerbangkan merpati.
Dari usaha itu, penghasilannya tidak menentu, namun rata-rata sekitar Rp200 ribu per hari.
“Lumayan juga, Pak. Kalau lagi ada, bisa sekitar Rp200 ribu, itu juga hanya cukup untuk makan saja,” ujarnya.
Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, ia memiliki satu harapan besar, yakni menyekolahkan anaknya hingga lulus kuliah.
Namun di sisi lain, ia dihantui kekhawatiran karena tempat tinggal sekaligus sumber penghasilannya terancam digusur.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
“Saya mohon, ya Allah, jangan dulu dibongkar. Saya sedang ada kebutuhan untuk kuliah anak di Unair,” ungkapnya penuh harap.
Di sekitar lokasi tersebut, memang sedang dibangun rumah susun (rusun) sebagai bagian dari penataan kawasan.
Sayangnya, Ceu Nining mengaku tidak mendapatkan jatah hunian karena KTP-nya masih beralamat di Garut, bukan Kota Bandung.
Ketika ditanya lebih jauh, Ceu Nining mengungkapkan bahwa anaknya saat ini kuliah di Universitas Airlangga jurusan robotika dan berhasil mendapatkan beasiswa.
“Alhamdulillah dapat beasiswa, Pak. Sekarang sudah semester enam,” katanya dengan bangga.
Namun meski biaya kuliah ditanggung beasiswa, kebutuhan hidup sehari-hari tetap menjadi tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Ia mengandalkan penghasilan dari warung kopi untuk mengirim uang kepada anaknya di Surabaya.
“Kadang kirim Rp1 juta, kadang Rp1,5 juta. Untuk makan sekitar Rp500 ribu, lalu untuk kos Rp800 ribu. Anak saya bilang cukup, apalagi kadang ada tambahan dari usaha online,” jelasnya.




