Memutus Rantai Stigma pada Anak ADHD, Cegah Luka Psikologis hingga Dewasa

kompas.com
22 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Luka pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kerap tidak terlihat secara kasat mata.

Bukan luka fisik, melainkan goresan psikologis yang terbentuk perlahan dari label, penilaian, dan stigma yang terus melekat sejak usia dini.

Jika tidak ditangani, stigma tersebut dapat terakumulasi hingga masa remaja dan terbawa sampai dewasa, membentuk cara individu memandang dirinya sendiri.

Luka tersebut bukan hanya muncul dari satu lingkungan, tetapi berasal dari pengalaman di rumah, sekolah, hingga pergaulan sosial.

Baca juga: Jalan Terjal Anak ADHD Mendapatkan Pendidikan yang Inklusif

Tanpa penanganan yang tepat, dampaknya tidak hanya berhenti pada masa kanak-kanak, tetapi berlanjut menjadi persoalan psikologis jangka panjang.

“Pemulihan dari luka akibat stigma pada anak ADHD tidak hanya berfokus pada gejalanya, tetapi juga pada bagaimana individu memaknai dirinya kembali secara utuh,” ujar psikolog pemerhati ADHD, Anita Chandra saat dihubungi Kompas.com, Jumat (10/4/2026).

Menurut Anita, ADHD merupakan bagian dari gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder), di mana cara kerja otak individu berbeda dari kebanyakan orang.

Perbedaan ini memengaruhi kemampuan fokus, kontrol impuls, dan regulasi diri. Namun, karena gejala yang tampak sering menyerupai perilaku sehari-hari, anak dengan ADHD kerap disalahartikan sebagai nakal, malas, atau tidak disiplin.

Padahal, perilaku tersebut bukanlah bentuk pembangkangan yang disengaja. Anak dengan ADHD memiliki kadar dopamin yang lebih rendah, sehingga mereka cenderung mudah bosan dan terus mencari stimulasi baru.

Dalam kondisi ini, mereka bukan tidak mau fokus, tetapi memang kesulitan untuk mempertahankan fokus secara konsisten.

“Pemulihan harus dimulai dari pemahaman. Ketika lingkungan berhenti melabeli dan mulai memahami, di situlah proses penyembuhan bisa berjalan,” kata Anita.

Ia menekankan, stigma yang terus-menerus diterima anak dapat terinternalisasi menjadi identitas diri.

Baca juga: Diagnosis ADHD Tak Bisa Instan, Psikolog Ingatkan Bahaya Self-Diagnose dari Medsos

Anak mulai percaya bahwa dirinya memang bermasalah, tidak mampu, atau berbeda secara negatif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, bahkan depresi.

“Banyak remaja dengan ADHD mengalami keputusasaan karena merasa usahanya tidak pernah cukup. Ini yang disebut sebagai learned helplessness,” ujar dia.

Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya melalui terapi perilaku atau intervensi klinis. Anak juga perlu dibantu membangun kembali konsep diri yang positif. Orang tua dan guru, menurut Anita, memiliki peran krusial dalam proses ini.

Pendekatan sederhana seperti memberikan instruksi yang jelas, membagi tugas menjadi bagian kecil, serta mengapresiasi usaha—bukan hanya hasil—dapat membantu anak merasa lebih mampu dan dihargai.

“Lingkungan harus beradaptasi, bukan hanya menuntut anak untuk berubah. Ketika itu terjadi, potensi anak ADHD justru bisa berkembang luar biasa,” kata Anita.

Komunitas psikolog: menghapus stigma dari akar pengetahuan

Di tengah masih minimnya pemahaman masyarakat, peran komunitas profesional menjadi penting dalam menjembatani kesenjangan pengetahuan.

Komunitas Psikolog Peduli ADHD menjadi salah satu wadah yang berupaya meningkatkan kompetensi para psikolog sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.

Baca juga: Perjuangan Ibu di Jakarta Hadapi Anak ADHD: Dari Rasa Bersalah hingga Bangun Ruang Aman

Co-founder komunitas tersebut, Masfuukhatur Rokhmah, menjelaskan bahwa ADHD masih menjadi gangguan perkembangan yang kerap disalahpahami di Indonesia.

“Stigma seperti anak nakal, susah diatur, atau sembrono masih sangat kuat. Padahal, ini adalah kondisi di mana fungsi otak berkembang secara berbeda,” ujar Fukha saat dihubungi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Komunitas yang berdiri sejak 2018 ini beranggotakan ratusan psikolog dari seluruh Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dihadiri Didit Prabowo, Begini Momen Perayaan Ulang Tahun Titiek Soeharto di DPR
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Reaksi Dava Yunna Usai Cetak Gol Sensasional Buat Timnas Indonesia di Piala AFF U-17 2026, Tetap Membumi Meski Jadi Sorotan
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Ricuh! Eksekusi Rumah di Surabaya Diwarnai Perlawanan Berujung Aksi Saling Dorong
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Biaya Avtur Naik, Anggaran Penerbangan Haji Ditambah
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Ketika Lubang Pembuangan Sampah di Rusunawa Ikut Tersumbat Hingga Lantai Enam Dampak Pembatasan Bantargebang
• 21 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.