jpnn.com, JAKARTA - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI akan meminta keterangan anggota Komisi III Aboe Bakar Al-Habsyi di kompleks parlemen, Senayan, Selasa (14/4).
Hal demikian seperti tertuang dalam surat berkop DPR RI bernomor 148/PW.09/05/2026 yang diteken Wakil Ketua MKD Imron Amir pada Senin (13/3).
BACA JUGA: Aboe Bakar Sebut PKS Berikan Karpet Merah Bagi Kader Muda
Ketua MKD Nazaruddin Dek Gam membenarkan informasi soal pemanggilan pihaknya terhadap Habib Aboe sapaan Aboe Bakar Al-Habsyi.
"Benar, surat itu tadi sore ditandatangani Gus Imron (sapaan Imron Amir, red)," ujarnya melalui layanan pesan, Senin ini.
BACA JUGA: Aboe Bakar: Kepala Daerah dari PKS Harus Selaras dengan Prabowo
Adapun, pemanggilan terhadap Habib Aboe dilakukan setelah heboh berita keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran narkoba.
Mengacu surat, berita tersebut memunculkan reaksi luas di masyarakat, sehingga MKD memutuskan memanggil Habib Aboe pada Selasa besok
BACA JUGA: Sekjen PKS Habib Aboe: Layanan Haji Harus Berkelas
"Benar-benar, dan akan kami panggil yang bersangkutan besok," kata Dek Gam.
Berita keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran narkoba muncul dari pernyataan Habib Aboe dalam rapat di kompleks parlemen, Senayan, Selasa (7/4).
Legislator fraksi PKS itu hadir dalam rapat bersama Kepala BNN Suyudi Ario Seto membahas rancangan aturan narkotika.
Mulanya, Habib Aboe menyebut Komisi III berkomitmen mendukung regulasi yang adaptif dan progresif dalam pemberantasan narkoba.
"Saya pikir Komisi III ini berkomitmen, ya, untuk mendorong regulasi adaptif, progresif, serta mampu memberikan dasar hukum yang kuat bagi aparat dalam memberantas jaringan narkotika hingga ke akar-akarnya," ujarnya dalam rapat Selasa pekan lalu.
Habib Aboe dalam rapat ketika itu menekankan pentingnya sinergi antarlembaga seperti BNN, Polri, dan pemerintah daerah dalam memberantas narkoba.
"Tanpa kolaborasi yang solid, upaya kita tidak akan mencapai hasil yang optimal," ujarnya.
Habib Aboe kemudian menyinggung soal ulama dan kalangan pesantren di Madura, Jawa Timur (Jatim) yang masuk dalam pusaran peredaran narkoba.
"Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika," ujarnya.
Dia berharap BNN bersama Polri mengecek kabar keterlibatan ulama dan kalangan pesantren di Madura dalam pusaran narkoba.
"Coba cek benar atau tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa? Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuannya banyak, bukan dikit," kata Habib Aboe.
Dia mengaku khawatir kasus peredaran narkona di Madura melibatkan petinggi daerah setempat, sehingga harus diberantas.
"Nah, saya khawatir yang bermain-main ini, ya, maaf, ya, saya, kami tidak tendensius, saya khawatir yang bermain, ya, yang punya posisi-posisi, Pak, karena ini atau pebisnis-pebisnis besar," ungkap Habib Aboe. (ast/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Aristo Setiawan




