JAKARTA, KOMPAS.com - Menjalani hidup dengan gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tentu saja bukan perkara yang mudah untuk sebagian besar orang.
Apalagi gangguan saraf yang satu ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang yang mengalaminya.
Salah satu orang yang mengalami ADHD adalah pria bernama Justito Adiprasetio (37). Ia baru didiagnosis memiliki gangguan perkembangan saraf saat usianya 30 tahun.
Hal itu dapat terjadi karena perkembangan pengetahuan tentang ADHD ketika ia kecil, belum berkembang pesat seperti sekarang ini.
Tito sebelumnya sempat pergi ke profesional, tapi karena riset tentang ADHD belum berkembang, ia justru didiagnosis penyakit mental lain.
Ia baru didiagnosis ADHD secara pasti, ketika buah hatinya mengalami gejala serupa dan melakukan berbagai pemeriksaan, serta terapi.
Dari situ lah, Tito memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan lagi untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dirinya sejak kecil.
"Kita tidak boleh melakukan diagnosis mandiri (self-diagnose), jadi harus melalui asesmen. Hasilnya menunjukkan tingkat moderat (tingkat keparahan sedang)," ungkap Tito ketika dihubungi Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Sosok Jema, Anak ADHD yang Fasih Bahasa Inggris dan Lancar Baca Sejak 4 Tahun
Sulit fokus dan terus berpikirPuluhan tahun hidup dengan ADHD, membuat Tito sering sulit untuk fokus ketika mengerjakan sesuatu, karena mudah terdistraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Di sisi lain, pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut cenderung selalu berpikir sepanjang hari.
"Gambarannya begini, jika orang lain bisa melamun kosong melihat tembok, saya seumur hidup tidak pernah merasakan itu. Pikiran saya konstan bekerja. Mungkin orang menyebutnya overthinking, tetapi dalam kasus saya, pikiran itu tidak bisa berhenti bahkan saat istirahat," sambung dia.
Awalnya, gejala sulit fokus dan terus berpikir membuat Tito sempat kesulitan menjalani hidupnya.
Namun, setelah puluhan tahun lamanya mengalami gejala itu, ia sudah memiliki mekanisme koping sendiri.
Baca juga: Perjuangan Ibu di Jakarta Hadapi Anak ADHD: Dari Rasa Bersalah hingga Bangun Ruang Aman
Kopi jadi penyelamatSalah satu mekanisme koping untuk mengatasi gejala kurang fokus yang dialaminya adalah dengan meminum kopi.
"Saya punya strategi untuk menghadapi diri sendiri, contohnya melalui kopi. Sebelum didiagnosis tegak (ADHD), saya sudah tahu bahwa kopi meningkatkan fokus saya," jelas Tito.
Namun, di sisi lain ia juga menyadari, meminum kopi yang terlalu berlebihan akan membuat tubuhnya resisten dan itu akan menganggu jam tidurnya.
Jika kurang tidur, Tito merasa lebih mudah emosi dan suasana hatinya sulit untuk dikendalikan.
Oleh sebab itu, ia juga harus membatasi konsumsi kopinya setiap hari.
Baca juga: Potensi yang Kerap Terlewat, Kenapa Anak ADHD Hanya Dilihat dari Kekurangan?





