Grid.ID - Mengapa hari Kartini selalu identik dengan kebaya? ini penjelasan lengkapnya.
Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April, yang pada tahun ini jatuh pada Minggu (21/4/2024). Peringatan tersebut bertujuan mengenang perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.
Salah satu tradisi yang kerap dilakukan saat Hari Kartini adalah mengenakan pakaian adat, terutama kebaya. Lalu, apa alasan Hari Kartini identik dengan kebaya? Berikut penjelasannya.
Peringatan Hari Kartini sering dikaitkan dengan penggunaan busana tradisional, khususnya kebaya, karena pakaian ini sangat melekat dengan sosok RA Kartini. Semasa hidupnya, tokoh emansipasi perempuan itu kerap tampil mengenakan kebaya.
Bahkan, muncul istilah kebaya Kartini, yaitu model kebaya yang identik dengan gaya busana RA Kartini. Ciri khasnya adalah kerah berbentuk V serta potongan lengan yang lebih longgar.
Jika ditelusuri lebih jauh, kebaya memiliki sejarah panjang. Berdasarkan buku digital Evolusi Kebaya (2022) yang disusun Pusat Data dan Analisa Tempo, asal-usul kata “kebaya” diduga berasal dari bahasa Arab “kaba” yang berarti pakaian.
Istilah ini juga dikaitkan dengan “abaya”, yakni busana tunik panjang khas Timur Tengah. Catatan dari Portugis menyebutkan bahwa kebaya sudah digunakan sebagai busana resmi di kerajaan-kerajaan Jawa sejak abad ke-15, sebagai pelengkap kemben.
Pada masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1500-an, perempuan Jawa masih mengenakan kemben yang membuat bagian dada terbuka. Seiring masuknya Islam ke Jawa melalui Kerajaan Demak, terjadi penyesuaian dalam cara berpakaian agar lebih tertutup, dengan mengadopsi pengaruh busana dari luar, seperti Perancis dan India.
Kemudian, muncul kebaya model kutu baru yang berfungsi melengkapi kemben agar tampilan lebih tertutup. Model ini memiliki ciri khas berupa kain penghubung di bagian tengah yang menyatukan sisi kanan dan kiri.
Awalnya, kebaya merupakan busana yang dikenakan oleh kalangan bangsawan, seperti permaisuri dan selir kerajaan. Namun seiring waktu, kebaya mulai digunakan oleh perempuan dari berbagai lapisan masyarakat.
Perkembangan kebaya terus berlangsung hingga muncul kebaya Kartini yang terinspirasi dari gaya berpakaian RA Kartini. Dalam buku Evolusi Kebaya (2022), disebutkan bahwa Kartini mengenakan kebaya dengan hiasan bordir di sekitar kerah V, yang biasanya dilengkapi bros.
Dari dokumentasi foto yang ada, RA Kartini memang sering mengenakan kebaya dalam kesehariannya. Berbeda dengan model sebelumnya, kebaya Kartini tidak lagi menggunakan kemben, melainkan berbentuk seperti tunik dengan potongan tubuh dan lengan yang lebih longgar.
Memiliki pengaruh yang besar untuk perempuan dan pendidikan di Indonesia, maka pada hari kelahirannya, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Hari Kartini telah ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 108 Tahun 1964.
Setiap tahunnya, baik di instansi pendidikan, perkantoran, hingga lingkungan pedesaan banyak yang turut serta memeriahkan peringatan Hari Kartini.
Seperti pada tahun ini, Hari Kartini 2026 juga dilaksanakan di beberapa lapisan masayarakat pada Selasa, 21 April 2026, mulai dari upacara hingga lomba-lomba dengan tema Hari Kartini yang menarik.
Hari Kartini bukan hanya sekadar perayaan namun juga momen refleksi bagi perempuan Indonesia untuk terus memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial. (*)
Artikel Asli




