Kalimat ‘Tentara Islam Terakhir’ dalam Video Peresmian Rudal Turki Viral

harianfajar
22 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, ANKARA—Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri upacara industri pertahanan di distrik Lalahan, Ankara, Senin lalu, menandai peresmian fasilitas produksi baru, penyerahan sistem produksi massal, dan peluncuran proyek infrastruktur tambahan untuk produsen rudal Roketsan yang terkait dengan negara.

Acara tersebut menunjukkan fokus Turki yang berkelanjutan pada penguatan kemampuan pertahanan domestiknya.

Dikutip dari Nordic Monitor, video promosi yang dirilis setelah upacara tersebut telah menarik perhatian yang signifikan karena konten dan nadanya, menggabungkan visual dari area konflik global dengan pesan politik dan referensi keagamaan.

Video tersebut, yang diproduksi oleh produsen senjata dan kontraktor pertahanan Roketsan untuk mempresentasikan sistem rudal dan roketnya, dibuka dengan cuplikan operasi militer Israel di Gaza.

Kemudian beralih ke adegan yang menggambarkan konflik dan penderitaan kemanusiaan di Sudan, Myanmar, dan Azerbaijan pada berbagai periode waktu. Rangkaian adegan tersebut menunjukkan warga sipil dalam kondisi perang, diselingi ledakan dan aktivitas militer.

Fokus segmen pembuka pada Gaza tampaknya disengaja, menunjukkan pesan tertentu. Penyertaan area konflik lain telah ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan konteks yang lebih luas di luar Israel, meskipun penekanan utama secara luas dipahami tetap pada penggambaran Israel sebagai fokus utama.

Setelah cuplikan konflik, video beralih ke kompilasi pidato Erdogan dari berbagai kesempatan.

Cuplikan ini mencakup ungkapan yang dipengaruhi agama dan seruan untuk ketekunan, seperti “Jangan takut, jangan mundur, jangan putus asa. Allah bersama kita,” yang mencerminkan tema-tema yang berakar pada ajaran Islam.

Video tersebut juga menunjukkan Erdogan membacakan puisi nasionalis terkenal yang sering dikaitkan dengan militer Turki, menggambarkan tentara sebagai badai yang bangkit atas nama Allah, terdiri dari mereka yang mengorbankan nyawa mereka untuk tujuan ilahi dan menggambarkannya sebagai “tentara terakhir Islam” yang bertugas memastikan seruan salat tetap berlangsung.

Pernyataan tambahan yang dikaitkan dengan presiden menunjukkan tekad dan ketahanan, termasuk referensi untuk membangun kembali kekuatan meskipun ada penentangan global dan pernyataan bahwa Turki belum “mengucapkan kata terakhirnya” di panggung dunia.

Komposisi dan isi video tersebut telah menyebabkan beberapa pengamat mengkarakterisasikannya sebagai mengandung unsur pesan politik.

Kombinasi bahasa religius, puisi nasionalis, dan citra presiden dalam presentasi industri pertahanan telah memicu perbandingan dengan materi bergaya kampanye politik daripada komunikasi korporat atau militer tradisional.

Roketsan membagikan video tersebut di seluruh saluran media sosialnya, di mana video tersebut dengan cepat menghasilkan keterlibatan yang luas.

Banyak pengguna memposting komentar yang mendukung dengan nada nasionalis dan religius yang kuat, sementara yang lain fokus pada kritik video terhadap Israel, menambahkan pesan yang mengutuk tindakan militer Israel.

Kasus serupa pernah terjadi pada tahun 2022 yang melibatkan Yunani. Roketsan memperkenalkan rudal jelajah ÇAKIR, yang memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer dan dapat diluncurkan dari berbagai platform, termasuk pesawat sayap tetap dan helikopter, kendaraan udara tak berawak, kendaraan darat taktis, dan sistem angkatan laut.

Video simulasi promosi yang dibuat untuk rudal tersebut juga berisi referensi yang ditafsirkan sebagai ditujukan kepada Yunani.

Para ahli militer yang berbicara kepada Nordic Monitor mencatat bahwa sementara kontraktor pertahanan besar di seluruh dunia menggunakan simulasi promosi untuk pemasaran internasional, perusahaan Turki semakin banyak memproduksi konten yang dianggap menargetkan Yunani dan negara-negara tetangga lainnya.

Roketsan yang berbasis di Ankara mempertahankan struktur kepemilikan yang didominasi oleh yayasan pertahanan nasional dan perusahaan milik negara.

Menurut pengungkapan tata kelola perusahaan terbaru, Yayasan Angkatan Bersenjata Turki (TSKGV) memegang saham pengendali sebesar 55,34 persen.

Pemegang saham utama lainnya termasuk Perusahaan Industri Mekanik dan Kimia (MKE) sebesar 15,17 persen, ASELSAN sebesar 14,90 persen, Vakıflar Bankası sebesar 9,93 persen, dan HAVELSAN sebesar 4,50 persen.

Saat ini perusahaan mengekspor ke sekitar 50 negara, dengan penjualan internasional menyumbang lebih dari 38 persen dari total pendapatan.

Data resmi menunjukkan bahwa 90 persen bahan yang digunakan dalam produksi Roketsan bersumber dari dalam negeri, didukung oleh rantai pasokan lebih dari 2.300 perusahaan.

Pemerintah Turki telah lama menekankan perkembangan di sektor pertahanan sebagai komponen utama pesan publiknya.

Erdogan telah berulang kali menyatakan bahwa Turki telah mengalami transformasi signifikan dalam produksi pertahanan dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada pemasok asing dan memperkuat kedaulatan nasional. (amr)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Faradina Mufti Kenang Masa Kecil, Sepatu Baru Jadi Barang Mewah dan Harus Menunggu Rusak Dulu
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Sempat Pesimis, Sammy Simorangkir Haru Bakal Gelar Konser Tunggal 2 Dekade Berkarya
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Belajar dari Duet Valentino Rossi-Jorge Lorenzo, Mantan Manajer Ducati Yakin Pedro Acosta Bisa Jadi Kunci Marc Marquez Bangkit
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Pengusaha Ngaku Kesulitan, UU Baru Harus Lindungi Pekerja-Perusahaan
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga TBS Sawit Riau Naik Lagi ke Rp4.116,83 per Kg
• 12 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.