JAKARTA, KOMPAS.com - Tak bisa berdiam diri di satu tempat menjadi kondisi yang biasa dialami oleh anak-anak dengan gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), setiap harinya.
Mereka cenderung hiperaktif, sehingga kerap kali mondar-mandir, berlari memanjat, dan lain sebagainya.
Begitu aktifnya anak ADHD, membuat mereka seringkali dicap buruk oleh lingkungan sekitarnya.
Mereka kerap dilabeli sebagai "anak nakal" karena terlihat tak mau diam dan sulit untuk diatur.
Padahal, terus aktifnya anak ADHD bukan disebabkan karena kemauan mereka secara pribadi, melainkan merupakan gejala yang memang harus dihadapi.
Stigma-stigma buruk tentang anak dengan ADHD terus berkembang di tengah masyarakat, dan kerap kali melukai hati orangtua yang buah hatinya mengalami kondisi itu.
Baca juga: Remaja ADHD Rentan Terkena Stigma, Psikolog: Label “Malas” Bisa Picu Depresi
Berusaha cuekSalah satu orangtua bernama Debby Rosaliana Febriani (40), yang anaknya mengalami ADHD berusaha untuk cuek terhadap stigma negatif masyarakat ke buah hatinya yang bernama Azzikra Benzema Ibnusina (10).
"Saya sih cuek saja, ada juga yang bilang dia anak bandel karena tidak bisa diam. Tapi, ya, sudah lah," ujar Debby ketika diwawancarai Kompas.com di rumahnya, Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (12/4/2026).
Di sisi lain, putra semata wayang Debby tersebut juga kerap kali kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya di lingkungannya.
Sebab, meski tumbuh dengan ADHD, Jema memiliki kemampuan fasih berbahasa Inggris sejak usia masih belia, meski tak pernah diajari oleh orangtuanya.
Siswa kelas tiga SD tersebut justru lebih menguasai Bahasa Inggris, dibandingkan Bahasa Indonesia yang sering didengar.
Kemampuan bahasa Indonesia yang kurang baik membuat Jema kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak di sekitar rumahnya.
"Anak-anak lain yang bilang 'jangan temani dia, dia bicaranya bikin pusing', karena Jema sering pakai bahasa Inggris," sambung Debby.
Meski perkataan itu sering melukai hatinya, tapi Debby tak mau mengambil pusing dan memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama putranya.
"Tapi ya sudahlah, saya malas keluar rumah kalau tidak penting karena memang capek mengawasinya," tutur dia.
Meski begitu, Jema tetap tumbuh dan terus membaik, dibandingkan pertama kali didiagnosis ADHD.
Bahkan kini, ia juga sudah bisa masuk sekolah dasar negeri (SDN) dan belajar bersama dengan anak-anak lainnya.
Baca juga: Sosok Jema, Anak ADHD yang Fasih Bahasa Inggris dan Lancar Baca Sejak 4 Tahun
Sering ditatap sinisSedangkan orangtua lain bernama Justito Adiprasetio (37), lebih sering merasa anaknya yang mengalami ADHD mendapat tatapan sinis dari banyak orang.
"Secara verbal mungkin jarang, tapi tatapan sinis itu ada," ucap Tito ketika dihubungi Kompas.com, Senin (30/3/2026).





