Wabah Penyakit Mulut dan Kuku di Daratan Tiongkok Meluas, Pemerintah Langsung Meluncurkan Vaksin Lokal Picu Keraguan

erabaru.net
21 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Virus baru penyakit mulut dan kuku (PMK) sedang menyebar luas di Tiongkok dan telah memengaruhi setidaknya 12 provinsi. Berbagai daerah memberlakukan penutupan desa dan jalan, pasar sapi ditutup, harga babi dan sapi anjlok. Kini para peternak mengalami kerugian besar. Sementara itu, hanya beberapa hari setelah wabah muncul, pihak berwenang langsung menyetujui peluncuran vaksin dalam negeri yang memicu keraguan publik.

Menurut berbagai laporan, sedikitnya 12 provinsi di daratan Tiongkok mengalami wabah PMK tipe Afrika Selatan 1 (SAT1).

Meski wabah ini serius dan menyebar dengan cepat, situs resmi biro peternakan dan kedokteran hewan di bawah Kementerian Pertanian  hanya memuat satu laporan singkat tertanggal 28 Maret, yang mana secara ringan menyebut adanya satu kasus di Xinjiang dan satu kasus di Gansu.

 “Cara khas Partai Komunis Tiongkok adalah menutup-nutupi wabah. Ini sebenarnya pendekatan yang bertentangan arah. Ketika wabah besar terjadi, seharusnya ada transparansi tinggi agar semua pihak mengetahui situasi sebenarnya, sehingga seluruh masyarakat dapat dikerahkan untuk meminimalkan dampak wabah,” kata pengamat politik yang berbasis di AS, Lan Shu. 

Virus utama dalam wabah ini adalah tipe SAT1 dari Afrika Selatan, yang merupakan jenis baru. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara maupun pakan, dengan masa inkubasi yang singkat. Tingkat kematian pada anak sapi dapat mencapai hingga 50%.

Virus ini telah menyebar dari Afrika ke Timur Tengah, lalu ke Asia Barat dan Rusia. Industri peternakan di negara-negara terkait mengalami kerugian besar, bahkan Afrika Selatan pernah menetapkannya sebagai bencana nasional.

Pengamat politik lain yang berbasis di AS, Xing Tianxing, menganalisis bahwa seperti halnya Tiongkok, Rusia juga lama menutupi wabah. Karena hubungan Beijing dan Moskow sangat dekat, pemerintah PKT tidak benar-benar memperkuat langkah pencegahan terhadap Rusia, sehingga virus kemungkinan besar masuk dari sana.

 “Pemerintah PKT tidak mengambil langkah untuk mencegahnya, baik di perbatasan maupun pemeriksaan. Barang-barang dari Rusia tetap masuk ke Tiongkok. Saya rasa kemungkinan besar sumbernya dari Rusia,” ujarnya. 

Saat ini, peternakan dan pasar sapi di daerah terdampak telah ditutup. Harga babi dan sapi jatuh tajam, membuat para peternak putus asa. Di banyak tempat, kembali terjadi penutupan desa dan jalan seperti saat pandemi COVID-19, dengan petugas berpakaian pelindung masuk desa untuk melakukan disinfeksi.

Seorang warga Desa Daquanwan di Kota Hami, Xinjiang, melaporkan bahwa petugas setempat tanpa prosedur hukum yang jelas dan tanpa menjelaskan penyebab penyakit, masuk ke rumah warga pada tengah malam untuk menyuntikkan obat ke kawanan domba. Setelah hewan-hewan itu pingsan, semuanya langsung dibawa pergi.

Lan Shu mengatakan:  “Ketika terjadi wabah besar seperti ini, metode pemerintah sangat kasar dan sederhana. Jika satu peternakan atau satu wilayah terkena, maka semua ternak di wilayah tersebut langsung disembelih. Ini adalah praktik yang dilakukan selama ini.”

Xing Tianxing juga menyatakan bahwa kegagalan pencegahan menyebabkan virus masuk, mengakibatkan kerugian besar bagi para peternak. Setelah wabah terjadi, penutupan informasi dan kebijakan pengendalian ekstrem justru memperparah bencana secara buatan.

 “Tidak hanya ternak yang dikarantina, manusia juga dibatasi pergerakannya. Ini bukan sekadar kewaspadaan berlebihan, tapi sudah mencapai tingkat ekstrem, seolah tidak memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Model seperti ini hanya bisa terjadi di negara komunis yang otoriter seperti Tiongkok,” katanya. 

Seorang relawan bernama samaran Chen Ruixiang yang aktif mengunjungi peternakan babi dan mendokumentasikan kondisi wabah mengungkapkan kepada media bahwa ia saat ini berada di Hunan dan menyaksikan langsung penderitaan para peternak. 

 “Wabah PMK kali ini tidak memiliki obat yang efektif, para peternak mengalami kerugian besar Mereka yang memiliki asuransi mungkin mendapat sebagian kompensasi, sementara yang tidak memiliki asuransi harus menanggung seluruh kerugian sendiri,” katanya. 

Xing Tianxing menambahkan:  “Di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, jika terjadi wabah besar, biasanya akan dipertimbangkan kondisi petani dan diberikan bantuan ekonomi. Kebijakan seperti ini berorientasi pada rakyat, tetapi hal tersebut tidak ada di Tiongkok.”

Perlu dicatat, hanya beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan wabah, otoritas terkait dengan cepat menyetujui dua jenis vaksin dalam negeri untuk virus baru ini. Hingga 8 April, para peternak di Shandong, Gansu, Ningxia dan daerah lainnya sudah menerima dan mulai menyuntikkan vaksin tersebut.

Netizen mempertanyakan: “Kalau seperti vaksin COVID-19, bisa jadi masalah besar.” (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Film Korea Penuh Misteri dan Bikin Tegang yang Wajib Ditonton
• 18 jam lalubeautynesia.id
thumb
Warga yang Disebut Ditabrak Mobil Polisi Ternyata Jatuh karena Lemparan Batu Tawuran
• 11 jam lalukompas.com
thumb
BGN Beri Tanggapan Terkait Anggaran Rp113 Miliar untuk Jasa EO
• 23 jam lalunarasi.tv
thumb
Serba-Serbi Iran Terapkan Tarif Selat Hormuz dengan Yuan dan Kripto | SAPA PAGI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Belum Terima Laporan Resmi Terkait Isu Blanket Clearance AS
• 7 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.