Militer Iran Sebut Blokade AS pada Selat Hormuz sebagai Pembajakan

bisnis.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — Militer Iran angkat suara setelah militer Amerika Serikat menyebut akan mulai memblokade Selat Hormuz pada Senin (13/04/2026). Menanggapi rencana tersebut, militer Iran menyebut bahwa tindakan pemblokiran Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS adalah tindakan yang ilegal dan termasuk ke dalam contoh pembajakan.

“Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat yang kriminal terhadap navigasi dan transit maritim di perairan internasional adalah ilegal dan merupakan contoh pembajakan,” kata pusat komando militer Iran Khatam Al-Anbiya yang dibacakan di televisi pemerintah, dikutip dari laman Inquirer, Selasa (14/04/2026). 

Selain itu, militer Iran juga memperingatkan bahwa jika pelabuhan-pelabuhan di perairan Teluk Persia dan Laut Arab Terancam. Maka tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Arab yang akan aman. Merujuk pada teluk tersebut yang juga dikenal sebagai Teluk Arab. 

Sebelumnya, dilansir dari laman Al Jazeera, komando pusat AS mengatakan bahwa blokade yang direncanakan akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman. Dalam pernyataanya, militer AS juga menyebut bahwa mereka tidak akan menghalangi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan non-Iran. 

Tak hanya militer AS yang menyerukan tindakan blokade, Presiden AS Donald Trump juga turut menggemakan bahwa Angkatan Laut AS mulai akan memblokade Selat Hormuz. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk membersihkan selat dari ranjau dan membukanya kembali untuk semua pelayaran, tetapi Iran tidak boleh dibiarkan untuk mengambil keuntungan dari mengendalikan jalur air tersebut. 

Munculnya ancaman blokade Selat Hormuz sendiri dipicu oleh tidak tercapainya kesepakatan antara Iran dengan AS. Gagalnya negosiasi ini juga seperti menghancurkan harapan akan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang, sekaligus telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam kekacauan sejak dimulai pada akhir Februari tersebut. 

Selama proses negosiasi, Selat Hormuz menjadi kartu tawar utama yang dimiliki Iran. Sejak awal konflik, lalu lintas di jalur strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak dan gas global itu dibatasi secara ketat oleh Iran.

Dalam pembatasan tersebut, Iran hanya akan mengizinkan sejumlah kapal tertentu untuk melintas, terutama yang berasal dari negara-negara sahabat seperti China. Namun, setelah gencatan senjata diberlakukan, harga minyak dunia sempat mengalami penurunan hingga 8%, meskipun sebelumnya dua kontrak minyak acuan global, yakni WTI dan Brent, sempat melonjak hingga melampaui US$100 per barel. 

Menanggapi rencana AS yang ingin memblokade Selat Hormuz, Negara China yang menjadi saingan terbesar Washington sekaligus menjadi importir besar minyak Iran itu memberikan kritik tajam. “Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi, dan menjaga keamanan, stabilitas, serta kelancaran arusnya adalah kepentingan bersama komunitas internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun. 

Selain China, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles juga turut mengkritik rencana Trump dengan menyebut bahwa tindakan blokade Angkatan Laut AS yang direncanakan tersebut adalah tindakan yang tidak masuk akal. “Ini adalah satu lagi babak dalam spiral penurunan yang terus menerus ini, di mana kita telah terseret masuk,” ujar Margarita. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sugiono: Prabowo Minta Putin Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi dengan RI
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Rumus Rasulullah untuk Menjadi Sukses
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
FH UI Mencekam, 14 Mahasiswa Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Membeku saat Dipertemukan dengan Korban
• 19 jam laludisway.id
thumb
DPR Ingatkan Risiko Skema “War Ticket” Haji, Soroti Prioritas Lansia dan Antrean 40 Tahun
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Komisi I soal Kerja Sama Pertahanan Menhan RI-AS: Perkuat Diplomasi Militer
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.