Ekonomi RI Diklaim Tetap Tangguh di Tengah Tantangan Global

metrotvnews.com
16 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Ekonomi Indonesia masih menunjukkan resiliensi di tengah dinamika global yang penuh tekanan. Dengan proyeksi pertumbuhan global dari Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan Bank Dunia yang berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen, Indonesia mampu mencatat pertumbuhan 5,11 persen pada 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan pertumbuhan ini menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20. Ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, baik dari konsumsi rumah tangga, investasi, maupun belanja pemerintah.

Stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, serta koordinasi antarlembaga juga turut memperkuat fondasi tersebut. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama dengan kontribusi 54 persen terhadap PDB. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index yang tetap tinggi di level 360,7.

Di sektor pangan, produksi beras nasional mendekati 34,7 juta ton, dengan cadangan beras Perum Bulog hampir mencapai 4,6 juta ton, salah satu yang terbesar sepanjang sejarah. Sementara di sektor energi, pemerintah mendorong kemandirian melalui program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 14 April 2026.

Baca Juga :

Purbaya Paparkan Kekuatan Ekonomi RI kepada Investor Global di New York
 


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com) Ekonomi Indonesia masih dalam kondisi kuat Memasuki kuartal II 2026, Airlangga menilai ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi kuat. Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi.

Sektor manufaktur juga masih berada di zona ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar.

Dari sisi eksternal, peningkatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium, yang mencapai USD47 miliar, memberikan perlindungan alami terhadap tekanan sektor minyak dan gas.

Sementara itu, APBN tetap berperan sebagai bantalan ekonomi melalui berbagai stimulus, seperti bantuan pangan, subsidi energi, hingga diskon transportasi dengan total sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN juga terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.

“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan Tiongkok, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, sejumlah indikator sosial turut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen, dan rasio gini menurun ke level 0,363. Realisasi investasi sepanjang 2025 juga mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru. Percepat program hilirisasi jadi prioritas Dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang, pemerintah mempercepat program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar USD36,5 miliar, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional.

Pemerintah juga memperkuat iklim usaha melalui pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025.

Upaya ini mencakup penyederhanaan perizinan berbasis risiko dan digitalisasi melalui sistem OSS-RBA. Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus dikembangkan di sektor strategis seperti manufaktur, hilirisasi mineral, ekonomi digital, pariwisata, dan kesehatan.

Di tingkat global, Indonesia juga mencatat kemajuan kerja sama ekonomi dengan berbagai mitra, termasuk Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia. Kemudian RI memperkuat peran di forum internasional seperti BRICS, Association of Southeast Asian Nations, Regional Comprehensive Economic Partnership, dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership.

Dalam sesi diskusi, Airlangga menegaskan subsidi energi tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal guna mengantisipasi fluktuasi harga minyak global. Sementara itu, investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor strategis seperti energi, semikonduktor, dan pusat data.

“Indonesia memiliki lahan, Indonesia memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk Tiongkok, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," ujar dia.

"Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” tutup Airlangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satu Dunia Sudah Kecanduan Parah, Pemerintah Akhirnya Bertindak
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pasca-OTT Bupati Gatut Sunu, Kemendagri Turun Tangan Dampingi Pemkab Tulungagung
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
TPS dan perebutan ruang kota
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
16 Pelaku Grup Chat Mesum FHUI Dikumpulkan di Forum, Minta Maaf ke Korban
• 20 jam laludetik.com
thumb
Zodiak yang Jago Mengelola Uang
• 18 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.