North Atlantic Treaty Organization (NATO) dilaporkan menolak terlibat dalam rencana blokade pelabuhan dari Iran. Blokade tersebut diketahui merupakan usual dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyatakan sikap tegas pemerintahnya soal blokade yang dilakukan oleh Amerika Serika ke Iran. Ia menegaskan meskipun ada tekanan besar, pihaknya tidak akan ikut operasi yang dijalankan oleh Trump.
Baca Juga: Blokade Selat Hormuz, Amerika Serikat Remehkan Kapal Cepat Iran: Bukan Ancaman
“Kami tidak mendukung blokade. Kami tidak akan terseret ke dalam perang,” ujarnya.
Sementara Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengungkapkan rencana pembentukan misi multinasional yang bersifat defensif. Misi ini bertujuan mengawal kapal tanker, menjamin keamanan pelayaran dan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Misi akan dijalankan setelah situasi memungkinkan dan tidak akan melibatkan pihak yang sedang berkonflik, khususnya dari Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Adapun Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte menyatakan bahwa aliansi bisa berperan jika seluruh anggota menyepakati pembentukan misi khusus untuk melindungi lalu lintas dari Selat Hormuz.
30 negara dilaporkan siap bergabung dalam misi pengamanan pasca-konflik tersebut, mulai dari Timur Tengah, India, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda dan Swedia Pertemuan untuk membahas rencana ini dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat di Paris atau London.
Misi yang dirancang bersifat non-agresif dan bertujuan memberikan rasa aman bagi pelayaran internasional tanpa memperkeruh konflik. Iran dan Amerika Serikat akan diberi informasi mengenai misi tersebut, namun tidak akan dilibatkan secara langsung.
Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai memblokade wilayah dari Selat Hormuz. Hal tersebut menyusul kegagalan negosiasi untuk menghentikan konflik dari Washington dan Iran.
Trump juga menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang membayar biaya atau “toll” kepada Iran. Ia menegaskan ketidaksukaannya terhadap rencana penerapan tarif terhadap kapal yang ingin melintasi jalur dari Selat Hormuz.
Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sendiri menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pengecualian terhadap kapal dari semua negara. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah lanjutan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Mereaka juga juga mengumumkan bahwa pihaknya mulai melakukan persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut dalam wilayah dari Selat Hormuz.
Operasi tersebut melibatkan dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat. USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) dikerahkan dan dilaporkan telah melintasi wilayah dari Selat Hormuz.
Pasukan Garda Revolusi Iran membalas hal itu dengan memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayahnya akan dianggap melanggar gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat.
Iran menegaskan bahwa pelanggaran tersebut akan ditindak secara keras dan tegas. Selat Hormuz ditegaskannya berada di bawah kendali penuh dan manajemen angkatan laut dari Teheran. Pihaknya juga menegaskan jalur tersebut tetap dibuka untuk kapal non-militer dan pelayaran komersial selama mereka mengikuti aturan yang ditetapkan.
Baca Juga: Ogah Minta Maaf, Trump Kembali Serang Paus Leo XIV: Dia Salah!
"Selat tersebut berada di bawah kendali dan 'manajemen cerdas' dari Iran. Selat tersebut terbuka untuk jalur aman bagi kapal non-militer sesuai dengan peraturan khusus," kata Garda Revolusi.





