Perwakilan Lebanon dan Israel dijadwalkan bertemu di Washington pada Selasa (14/4) waktu setempat untuk pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) guna mengakhiri perang di Lebanon. Namun, peluang tercapainya kesepakatan dinilai sangat kecil.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, bahkan pada Senin (13/4) menyerukan agar perundingan tersebut dibatalkan karena dianggap sia-sia, seperti dilaporkan Reuters.
Konflik ini pecah sejak 2 Maret lalu setelah Hizbullah menyerang Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan besar-besaran, termasuk ke ibu kota Beirut.
Hingga kini, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi. Serangan masih dilaporkan terus terjadi di tengah gencatan senjata antara AS dan Iran.
Menurut laporan AFP, pembicaraan di Washington akan dimediasi oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan melibatkan duta besar kedua negara serta perwakilan AS di Beirut. Ini menjadi dialog langsung tingkat tinggi pertama antara Lebanon dan Israel sejak 1993.
Pemerintah Israel menegaskan tujuan utama mereka adalah melucuti senjata Hizbullah dan mengakhiri keberadaan kelompok bersenjata tersebut di Lebanon.
"Kami tidak akan membahas gencatan senjata dengan Hizbullah," ujar juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun berharap perundingan ini bisa menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sebagai langkah awal menuju negosiasi langsung.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (12/4) menegaskan pihaknya menginginkan pelucutan senjata Hizbullah serta perjanjian damai jangka panjang.
Meski demikian, perbedaan posisi kedua pihak dinilai terlalu jauh. Seorang mantan pejabat pertahanan Israel bahkan menyebut ekspektasi sangat rendah untuk mencapai hasil konkret dari pertemuan ini.





