Seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun di Kota Zhoukou, Provinsi Henan, Tiongkok, setiap kali makan di sekolah selalu diam-diam membungkus bagian daging terbaik dari makanannya untuk dibawa pulang kepada kakeknya, yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Bocah itu mengatakan ia takut kakeknya juga akan meninggal. Setelah kisah ini terungkap, banyak warganet yang terharu hingga menangis.
EtIndonesia. Pada 13 April, topik “bocah 9 tahun diam-diam membawa daging untuk kakeknya” menjadi trending di platform Weibo. Menurut laporan media Tiongkok, ayah bocah tersebut telah meninggal karena sakit, neneknya juga telah wafat, sementara ibunya telah menikah lagi. Kini, hanya ia dan kakeknya yang berusia 73 tahun yang saling bergantung.
Seorang guru di sekolahnya secara tidak sengaja mengetahui bahwa bocah tersebut selalu membungkus daging dari makanannya dengan kertas saat makan di sekolah.
Ketika guru bertanya, “Kenapa kamu tidak makan dagingnya?”
Bocah itu menjawab bahwa ia menyimpannya untuk dibawa pulang agar kakeknya bisa makan, karena ia takut kakeknya juga akan meninggal. Ia berkata,
“Ayah saya sudah meninggal, nenek saya juga sudah meninggal. Kakek biasanya tidak tega makan makanan seenak ini.”
Perkataan bocah itu membuat sang guru langsung menangis, “Dia begitu dewasa sampai membuat hati terasa perih.” Setelah itu, guru tersebut berkata kepada kakeknya,
“Anda tidak perlu khawatir. Jika suatu hari Anda benar-benar tiada, anak ini akan menjadi anak saya. Saya akan membesarkannya hingga dewasa.”
Kisah ini membuat banyak warganet Tiongkok tersentuh. Ada yang mengatakan bahwa kalimat “takut kakek juga meninggal” terasa seperti jarum yang menusuk hati. Anak-anak lain memikirkan nilai ujian untuk mendapatkan mainan baru, sementara ia memikirkan “agar kakek makan lebih banyak daging supaya bisa hidup lebih lama.” Anak dari keluarga miskin harus cepat dewasa, bukan karena ingin, tetapi karena tidak ada lagi yang melindungi mereka.
Sebagian warganet juga berkomentar bahwa meskipun janji sang guru sangat menyentuh, nasib seorang anak tidak seharusnya bergantung pada kebaikan individu, melainkan harus ada jaminan dari sistem. Mereka berharap anak tersebut bisa hidup seperti anak-anak lain, tanpa harus menanggung ketakutan kehilangan orang tercinta, dan berhak mendapatkan kasih sayang.
Ada pula komentar lain seperti, “Kenapa saat seperti ini tidak dibahas soal hukuman berat terhadap koruptor?” dan “Dengan menghukum satu koruptor saja, bisa membantu banyak anak baik seperti ini.”
Seiring isu ini terus menjadi perhatian publik, dikabarkan pihak desa setempat dan organisasi perempuan telah mulai turun tangan memberikan bantuan. Namun, banyak warganet menilai respons tersebut terlalu lambat, dengan komentar seperti:
“Banyak kasus seperti ini, baru ditangani setelah diberitakan.”
“Kalau tidak viral, apakah pemerintah lokal tidak tahu?”
“Kalau tidak terungkap, tidak ada yang turun tangan.”
“Instansi terkait selalu menjadi pihak terakhir yang tahu.”
Sumber : NTDTV.com





