Perang yang terjadi di Iran kembali menghidupkan wacana penggunaan yuan China dalam perdagangan minyak global atau yang dikenal sebagai 'Petroyuan'. Perang itu dinilai memicu optimisme baru mata uang China untuk menyaingi dominasi dolar AS dalam transaksi energi.
Mengutip Bloomberg, Selasa (14/4), meski masih jauh tertinggal dibanding dolar AS dalam perdagangan internasional, permintaan yuan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz dan mulai menerima pembayaran dalam mata uang China untuk menjamin keamanan pelayaran kapal kargo.
Di saat yang sama, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump justru memperketat tekanan dengan memblokade pelabuhan Iran usai gagalnya perundingan damai.
Petroyuan merupakan konsep yang didorong Presiden Xi Jinping saat kunjungannya ke Timur Tengah pada 2022, meski kurang berhasil.
Seiring konflik memanas, volume perdagangan minyak dalam denominasi yuan dilaporkan meningkat. Sistem pembayaran lintas batas China (CIPS) bahkan mencatat rekor transaksi harian hingga 1,22 triliun yuan, menandakan semakin aktifnya penggunaan mata uang tersebut di pasar global.
Sejumlah analis menilai perang ini bisa menjadi titik awal melemahnya dominasi petrodolar. China dinilai memiliki fondasi yang semakin kuat, terutama karena hubungan ekonominya dengan negara-negara Timur Tengah terus diperluas, termasuk lewat pengembangan pasar minyak berjangka di Shanghai.
Berdasarkan data resmi, pembayaran dan penerimaan dalam yuan antara China dan Timur Tengah mencapai 1,1 triliun yuan pada 2024, meningkat dengan laju tahunan 53 persen sejak 2020. Sebagian besar transaksi tersebut melibatkan sekuritas, bukan barang, yang hanya mencakup 18 persen dari total.
Meski begitu, para analis menilai penggunaan yuan dalam perdagangan minyak belum akan menggantikan dolar dalam waktu dekat. Dolar AS masih menjadi mata uang utama dalam sekitar 20 persen perdagangan global, terutama di sektor energi.
Selain itu, berbagai tantangan masih membayangi ambisi China. Yuan belum sepenuhnya bebas diperdagangkan, sementara pasar keuangan China juga masih relatif tertutup dibandingkan dengan AS.
“Konsep petroyuan masih merupakan peluang kecil dalam meningkatkan peran yuan dalam pembayaran global. Bahkan jika beberapa transaksi minyak dilakukan dalam yuan untuk menghindari sanksi, hal itu kecil kemungkinan menjadi perubahan besar dalam lanskap mata uang global,” kata profesor di Cornell University, Eswar Prasad, dikutip dari Bloomberg.
Dalam penyelesaian perdagangan komoditas global, Zhu Zhaoyi, dari Peking University memperkirakan porsi dolar AS akan turun menjadi sekitar 70 persen dari saat ini 80 persen dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, porsi yuan bisa meningkat dari 4 persen sampai 5 persen menjadi 8 persen sampai 10 persen.
Salah satu faktor utama yang memperlambat proses ini adalah keengganan Beijing untuk membuka arus keluar-masuk modal secara bebas. Otoritas masih mengendalikan yuan dan hanya mengizinkan pertumbuhan terbatas dalam perdagangan luar negeri. Likuiditas yuan offshore sekitar 1,6 triliun yuan per Maret tahun lalu, lebih kecil dibanding lebih dari USD 15 triliun aset dolar offshore.
Meski begitu, China dinilai memiliki posisi yang semakin kuat untuk masa depan, terutama karena penanganan konflik oleh Trump memunculkan pertanyaan tentang komitmen AS terhadap sekutu lamanya, yang dalam jangka panjang dapat mengurangi daya tarik dolar. Yuan bahkan mengungguli mata uang Asia lainnya dan negara G10 sejak perang pecah.
Di dalam negeri China, semakin banyak pihak yang melihat kondisi global kini lebih mendukung internasionalisasi yuan. Mantan Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan menyebut ini sebagai jendela emas untuk mendorong yuan menjadi mata uang global, dan meminta pembuat kebijakan memanfaatkan momentum tersebut.
Sejauh ini, perluasan penggunaan yuan dalam perdagangan komoditas banyak dipimpin oleh negara yang terkena sanksi. Hampir seluruh perdagangan bilateral antara Rusia dan China diselesaikan dalam yuan atau rubel, termasuk impor bahan bakar fosil China senilai 563 miliar yuan.
Namun sebagian besar kemajuan masih terbatas pada penyelesaian transaksi individual dalam yuan, belum sampai pada perubahan patokan harga minyak global yang menjadi syarat utama petroyuan. Kontrak berjangka minyak dalam yuan yang dimulai pada 2018 di Shanghai masih jauh lebih kecil volumenya dibanding kontrak WTI.
Bagi China, ini adalah strategi jangka panjang tanpa tenggat waktu. Sejarah menunjukkan dominasi mata uang global membutuhkan waktu lama untuk berubah. Meskipun ekonomi Inggris sudah lebih kecil dari AS sejak 1900, pound sterling tetap dominan hingga 1940-an.
China terus mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan sambil membangun infrastruktur pembayaran yang diperlukan. Pada 2023, China untuk pertama kalinya menyelesaikan impor LNG dalam yuan melalui bursa Shanghai, termasuk pasokan dari Uni Emirat Arab.
Tahun tersebut juga mencatat transaksi minyak lintas batas pertama dalam yuan digital. Tahun lalu, First Abu Dhabi Bank menjadi peserta langsung pertama dari Timur Tengah dalam sistem CIPS.
“Sebelum konflik Iran, beberapa negara Teluk sudah merasa perlu memperluas diplomasi ekonomi dengan menjajaki perdagangan non-dolar. Jika konflik Iran memperkuat dorongan ini, lebih banyak negara Teluk mungkin akan semakin menerima petroyuan seiring waktu,” kata Charles Chang dari S&P Global Ratings.





