Harga CPO Turun Lebih 2 Persen Tertekan Brent dan Minyak Nabati Pesaing

idxchannel.com
15 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak sawit mentah (CPO) turun lebih dari 2 persen pada Selasa (14/4/2026), tertekan pelemahan harga minyak mentah serta minyak nabati pesaing.

Harga CPO Turun Lebih 2 Persen Tertekan Brent dan Minyak Nabati Pesaing. (Foto; Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) turun lebih dari 2 persen pada Selasa (14/4/2026), tertekan pelemahan harga minyak mentah serta minyak nabati pesaing.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange merosot 2,33 persen, menjadi 4.449 ringgit Malaysia per ton pada pukul 16.33 WIB.

Baca Juga:
AS dan Iran Pertimbangkan Gelar Putaran Kedua Negosiasi Pekan Ini

Seorang analis berbasis di Singapura mengatakan pasar bergerak melemah akibat tekanan eksternal.

Harga minyak mentah turun seiring meredanya risiko geopolitik, setelah pembicaraan terkait potensi kesepakatan Iran memunculkan harapan gangguan pasokan dapat terselesaikan.

Baca Juga:
Investor Global Percaya Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Konflik Timteng

“Hal ini membebani sentimen minyak nabati secara keseluruhan, dengan harga minyak kedelai di Dalian dan Chicago turut melemah,” ujarnya.

Harga minyak berjangka pada Selasa kembali turun di bawah USD100 seiring meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran segera mencapai kesepakatan damai.

Baca Juga:
IHSG Ditutup Naik 2,34 Persen ke 7.675, Transaksi Tembus Rp24,68 Triliun

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan AS, turun hampir 3 persen ke level USD96,49. Sementara itu, minyak mentah Brent, acuan global, melemah 0,8 persen menjadi USD98,56 per barel.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,73 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 1,62 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga turun 0,78 persen.

Minyak sawit mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pangsa pasar global minyak nabati.

Pelaku pasar menantikan rilis estimasi ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-15 April oleh lembaga survei kargo pada Rabu.

Analis tersebut menyebut pasar memperkirakan ekspor melambat setelah kinerja kuat pada Maret.

Menurut Solvent Extractors' Association of India yang berbasis di Mumbai, impor minyak sawit India pada Maret turun hampir 19 persen secara bulanan dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan, setelah lonjakan harga minyak tropis mendorong kilang menahan pembelian.

Sementara itu, ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,5 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Ungkap Identitas Mayat Mengering Dalam Mobil di Sleman
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Menko Airlangga: Ekonomi RI Jauh dari Krisis 1998, Pertumbuhan Bisa Tembus 5,3%
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Bertemu Macron, Dorong Kolaborasi Alutsista dan Energi Terbarukan
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Menteri PKP Dorong Integrasi Pembiayaan Perumahan dan Ekonomi Rakyat
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Negara Tekor Rp1.000 T dari Tambang Emas Ilegal, Bos MIND ID Desak Sinergi Regulasi
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.