Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza
Runtuhnya infrastruktur limbah memicu ledakan populasi hewan pengerat dan risiko kesehatan publik yang akut.
Krisis sanitasi yang terus memburuk di Jalur Gaza kini melahirkan ancaman baru yang mengkhawatirkan: penyebaran pesat tikus di kamp-kamp pengungsian dan area perkotaan. Fenomena ini muncul sebagai konsekuensi langsung dari hancurnya infrastruktur sipil akibat konflik yang berkepanjangan.
Berdasarkan laporan The New Arab, tumpukan sampah yang tidak terangkut, kebocoran saluran pembuangan, dan kondisi hunian yang melampaui kapasitas telah menciptakan ekosistem ideal bagi hewan pengerat untuk berkembang biak.
Data lapangan menunjukkan bahwa 80 hingga 90 persen sistem sanitasi di wilayah tersebut kini dalam kondisi rusak berat atau tidak berfungsi sama sekali.
Risiko Kesehatan Akut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kegagalan dalam menangani krisis lingkungan di Gaza memicu risiko kesehatan jangka panjang yang fatal. Dalam pernyataan resminya kepada Arab News, WHO menyoroti korelasi antara limbah mentah dan lonjakan penyakit.
"Runtuhnya sistem air, sanitasi, dan limbah di Gaza telah menciptakan risiko kesehatan masyarakat yang akut, terutama penyakit yang ditularkan melalui air dan nyamuk," tulis WHO dalam pernyataan resminya.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa akumulasi sampah padat dan kepadatan penduduk di pengungsian menjadi motor penggerak utama meningkatnya kasus diare cair akut, sindrom kuning (jaundice), penyakit kulit, hingga infeksi saluran pernapasan.
Insiden Tragis di Tenda Pengungsian*
Dampak nyata dari ledakan populasi hama ini mulai menyasar kelompok paling rentan. Di Kota Gaza, seorang bayi berusia 30 hari, Adam Al-Ostaz, dilaporkan digigit tikus besar saat sedang tidur di dalam tenda keluarganya.
Ibu korban menceritakan terbangun karena jeritan sang bayi di tengah malam dan menemukan luka berdarah di wajah putranya. Tim medis yang menangani kasus ini di rumah sakit menggambarkan upaya stabilisasi kondisi Adam sebagai "perlombaan melawan waktu."
WHO memperingatkan bahwa populasi yang menderita malnutrisi, terutama anak-anak, berada pada posisi yang sangat rentan terhadap komplikasi penyakit.
"Anak-anak dan bayi berisiko sangat tinggi mengalami dehidrasi, diare parah, dan perburukan kondisi yang cepat akibat infeksi yang ditularkan melalui air," tambah pihak WHO.
Kebutuhan Intervensi Mendesak
Secara ekonomi dan logistik, blokade yang terjadi telah memutus akses terhadap pasokan sanitasi dasar. Tanpa intervensi radikal, sektor kesehatan Gaza diprediksi akan mengalami kolaps total yang lebih dalam.
WHO menekankan beberapa langkah krusial yang harus segera dilakukan:
- Akses Air Bersih : Pengiriman melalui truk, pasokan klorinasi, dan perbaikan cepat pipa utama.
- Surveilans Penyakit: Perluasan pemantauan untuk mendeteksi dan merespons wabah secara cepat.
- Logistik Medis : Penyediaan antibiotik, garam rehidrasi oral, cairan intravena, dan perlengkapan kontrol infeksi.
- Pengendalian Hama : Pengadaan sabun, disinfektan, serta upaya pengendalian hama di fasilitas kesehatan yang tersisa.
Restorasi layanan air dan sanitasi kini dipandang sama krusialnya dengan perawatan medis itu sendiri. Tanpa pemulihan layanan esensial ini, pengendalian penyakit dalam skala populasi di Gaza mustahil untuk dicapai.
Editor: Redaktur TVRINews





