Grid.ID - Komedian Fanny Fadillah membuat pengakuan pedih mengenai kehidupannya. Ia hampir menyusuri jalan kelam demi bisa menghidupi kedua anaknya.
Siapa yang menyangka jika di balik sifat humorisnya, komedian Fanny Fadillah menyimpan sederet kisah kelam dalam hidupnya. Tepatnya, enam tahun silam, saat wabah covid melanda Indonesia, dunia Fanny Fadillah perlahan ikut runtuh.
Pandemi covid yang mulai mewabah pada tahun 2020 itu, membuat kondisi ekonomi dunia terguncang. Begitu pula dengan kondisi perekonomian Fanny Fadillah. Tawaran pekerjaan terhenti, namun kebutuhan rumah tangga tetap harus berjalan.
Saat itu, rumah tangga Fanny juga hancur karena ia digugat cerai oleh istrinya. Belum lagi, salah satu anak Fanny harus masuk rumah sakit, disusul ia kehilangan ibunda tercinta yang meninggal dunia karena sakit. Kondisi terpuruk itu menjadi pukulan telak bagi Fanny.
“Job berkurang, gak cuma kehilangan sebelah sayap (bercerai dengan istri), ibu saya tercinta meninggal dunia, sebulan sebelumnya anak saya masuk rumah sakit karena DB,” kata Fanny saat jadi bintang tamu acara Pagi Pagi Ambyar.
“Sebelum covid itu saya termasuk orang yang gampang tidur, jam 10 aja mata rasanya sudah berat, tapi setelah masalah itu, saya jadi susah tidur, kepala rasanya mau pecah,” kata Fanny.
Sebagai kepala keluarga dengan dua anak yang masih harus sekolah, guncangan ekonomi adalah hal yang paling ia risaukan. Saking buntunya kala itu, pemeran karakter Ucup dalam sitkom Bajaj Bajuri itu nyaris kehilangan akal sehat.
Setelah karirnya mandek, Fanny mengaku nyaris terjun ke dalam bisnis penjualan barang haram. Ia berpikir, bisnis itu bisa mendatangkan uang secara instan, demi bisa menghidupi kedua anaknya.
“Ini gimana caranya (selesaikan semua masalah). Sampai ada kepikiran untuk jual narkoba itu,” kata Fanny Fadillah.
Beruntung, di suatu malam Fanny sempat melalui momen spiritual yang akhirnya bisa menyelamatkan dirinya dari niatan buruk berjualan narkoba. Fanny yang adalah seorang umat Kristiani, langsung jatuh tersungkur saat melihat salib yang terpasang di dinding kamarnya.
“Pikiran sudah jelek banget, ya ke arah sana. Di kamar saya ada salib di tembok, saya lihat dan berdoa. Saya berdoa tiap malam dan ada teman-teman muslim juga, saya minta solusi jalan keluar, minta sama yang Maha Kuasa,” kata Fanny.
Rumah Jadi Jaminan di Bank
Perjuangan Fanny Fadillah sebagai seorang kepala keluarga tak berhenti sampai di situ. Fanny rela melakukan apapun demi bisa menghidupi anak-anaknya, selama hal yang dilakukan tak melawan hukum.
Salah satu cara yang ditempuh Fanny adalah berurusan dengan pihak bank untuk mendapatkan suntikan uang. Risikonya adalah, Fanny harus menyerahkan rumah yang ia tempati kepada pihak bank, sebagai jaminan.
Sampai saat ini, Fanny dan kedua anaknya masih menempati rumah yang menjadi jaminan pihak bank. Ke depannya, rumah itu akan dilelang dan Fanny serta kedua anaknya harus keluar dari rumah dan mencari tempat tinggal baru.
“Hutang sama bank, minus mungkin,” katanya.
“Saya perlu klarifikasi, (rumah) gak disita, saya gak ada usaha lain, hanya entertainment, apa yang saya punya, kendaraan, rumah, saya gak punya yang dijual lagi, rumah digadai ke bank,” kata Fanny.
“Saya dapat uangnya dari bank dan sisihkan untuk cicilan setahun, dengan harapan sebelum setahun saya bisa dapat kerjaan,” katanya.
“Tapi, sampai tahun 2024, saya mulai kerepotan bayar cicilan, saya tau risiko pinjam ke bank, bank memberi tahu ada tunggakan sudah sekian lama, jadi (rumah) ini masuk dalam proses lelang, Puji Tuhan dalam proses itu, mudah-mudahan rezeki, masih tinggal di rumah itu,” kata Fanny.
“Kalau sampai terjadi harus keluar dari rumah, tentunya saya pihak terutang dikurangi apa yang dihasilkan lelang, saya cari kontrakan dulu, kecil yang penting nyaman buat anak-anak,” kata Fanny sambil menangis.
Dapat Pertolongan Sahabat Artis
Keterpurukan Fanny Fadillah memang belum benar-benar hilang, namun ia bersyukur masih dikelilingi orang-orang baik yang membantunya tanpa pamrih. Sambil bercucuran air mata, Fanny menyebut satu per satu orang yang berjasa datang ke kehidupannya, ketika Fanny berada di titik terendahnya.
“Puji Tuhan, saya punya saudara yang baik, ada saudara sepupu, mama punya adik punya anak, namanya Farah, buat Farah dia panggil saya koko, koko cuman bisa ucapin terimakasih yang gak terhingga, sudah bantu sangat banyak, apapun yang dia punya, dia rela membantu saya. Misal dia punya barang yang bisa ditaruh di pegadaian, dia bantu saya,” kata Fanny Fadillah.
“Ada sepupu saya, tinggal jauh namanya Lusi, terima kasih. Kalau saya betul lagi gak ada, saya cuma bisa WA, dia gak pernah tanya untuk apa, beruntunglah masih ada saudara yang bantu. Buat teman SMA yang juga bantu saya. Saya cuma bisa sekuat tenaga untuk anak-anak,” kata Fanny sambil menangis.
Rupanya, tak hanya keluarga, tapi juga salah satu sahabat artis yang datang membantu Fanny saat sang komedian membutuhkan bantuan ekonomi. Ia adalah lawan mainnya dalam sitkom Bajaj Bajuri, Oneng alias Rieke Diah Pitaloka.
Rieke yang kini sudah menjabat sebagai anggota DPR RI berkali-kali membantu Fanny lantaran tak tega dengan kondisi anak-anak Fanny. Tangis Fanny pecah ketika ditelepon pihak sekolah, jika uang tunggakan sudah dilunasi sahabatnya.
“Pas kita ketemu suatu projek, saya cerita anak yang kecil mau masuk SMA, (uang) pangkalnya besar, memang bisa dicicil. Besoknya saya dikasih tau (pihak) sekolah, (uang sekolah) anakmu sudah dibayarkan sama ibu Rieke,” kata Fanny.
“Saya sempat nangis juga, ya sudah mau gimanapun anak harus sekolah, pendidikan nomor satu, anak yang satu juga dibayarin kuliah tunggalnya, ya lumayan lah. Kata Rieke, pokoknya pendidikan anak lu, nanti gue coba tangani,” kata Fanny menirukan ucapan sahabatnya. (*)
Artikel Asli




