JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena musim kemarau dengan suhu tinggi dan intensitas yang panjang yang disebut dengan fenomena El Nino Godzilla ramai diperbincangkan.
Dilansir dari Kompas.com, istilah ini ramai dibahas karena dikaitkan dengan potensi cuaca ekstrem berupa kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), istilah "Godzilla" bukan merupakan terminologi resmi dalam klimatologi.
Secara ilmiah, El Nino hanya diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu lemah, moderat, dan kuat.
Baca juga: Warga Jakarta Waspada Dampak El Nino Godzilla, Picu Gangguan Pernapasan dan Kulit
Istilah "Godzilla" lebih bersifat populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas.
Di Indonesia, istilah ini kembali digunakan setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut potensi kombinasi El Nino kuat dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperparah kondisi kering.
Berdasarkan proyeksi BRIN, potensi kombinasi El Nino dan IOD positif dapat terjadi pada periode musim kemarau, yakni April hingga Oktober 2026.
Lantas apa dampaknya bagi Indonesia dalam kurun waktu yang panjang ini?
Baca juga: Kenapa DBD Bisa Meningkat saat El Nino? Ini Penjelasan Ahli
Potensi menaikkan produksi perikanan
BRIN mengatakan, musim panas dengan nama seram El Nino Godzilla tak selalu berarti kabar buruk.
Dari hasil penelitian BRIN, akan terjadi interaksi antara Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan El Nino dan memperkuat proses upwelling di selatan Jawa hingga barat Sumatera.
Dilansir dari website BRIN, salah satu anggota tim penelitian BRIN Yosef Prihanto mengatakan, upwelling ini akan berdampak pada peningkatan suplai nutrisi dasar laut ke permukaan laut.