NATO Tolak Gabung AS untuk Blokade Selat Hormuz

detik.com
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Perang antara Iran-AS-Israel diperkirakan akan kembali terjadi setelah gagalnya perundingan 21 jam di Pakistan di sela-sela gencatan senjata dua minggu sejak 8 April 2026. Tanda-tanda perang terlihat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS memblokade Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan. Blokade dilakukan terhadap semua kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Kapal perang AS juga memburu kapal-kapal yang membayar secara illegal kepada otoritas Iran agar bisa berlayar di selat trategis itu.

Selama gencatan senjata berlangsung, setelah berperang lebih dari sebulan, Iran membuka blokade Selat Hormuz, kemudian memberlakukan pungutan satu dolar AS per barel muatan kapal bagi semua kapal yang melintas di selat tersebut. Tindakan Iran itu menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO) merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Blokade Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran maupun AS tentu memunculkan kekhawatiran akan membuat harga minyak dunia kembali melonjak.

Kapal induk AS, USS Abraham Lincoln bersama kapal-kapal pengawalnya telah menempati posisinya tidak jauh dari Selat Hormuz untuk menegakkan blokade. Kondisi ini menambah rumit situasi, mengingat begitu banyak kapal yang melintas di selat tersebut, termasuk kapal-kapal berbendera China, Rusia dan Korea Utara. Apakah kapal-kapal dari tiga negara itu juga akan diperiksa juga oleh Angkatan Laut AS? Konsekwensinya tentu tidak dapat dianggap ringan dan bisa memicu situasi berkembang ke arah yang tidak menguntungkan dunia. Selain itu, Iran dipastikan tidak tinggal diam atas tindakan blokir yang dilakukan AS, apa lagi Presiden Trump pernah mengancam akan "menghancurkan seluruh peradaban Iran".

Sekutu AS di Eropa menolak bergabung untuk ikut memblokade Selat Hormuz. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sudah menyatakan penolakannya. Sebaliknya, Inggris bersama Perancis akan menyelenggarakan konferensi untuk membentuk misi multinasional. Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyebut misi multinasional itu bersifat defensif dengan tugas mengawal kapal-kapal tanker saat melewati Selat Hormuz. Misi itu beranggotakan sekitar 30 negara, termasuk negaranegara Teluk. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte menyebut misi itu akan terlaksana bila 32 negara anggota NATO menyetujui pembentukannya.

Iran Bukan Venezuela

Dalam perang yang berlangsung sebulan lebih, ternyata AS dan Israel "kewalahan" menghadapi Iran di medan pertempuran. Pasukan Iran bukan seperti yang dikalkulasi AS-Israel: mereka tangguh serta cerdik menggunakan berbagai peralatan perang, sehingga bisa meraih kemenangan politis, dengan AS memberlakukan gencatan senjata selama dua minggu untuk berunding di Pakistan.

Pada perang Februari-Maret lalu, dari segi peralatan militer, pasukan AS sesungguhnya bukan tandingan Iran, sehingga Presiden Trump menganggap enteng Iran. Bisa jadi Trump menyamakan Iran degan Venezuela yang presidennya dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan. Dengan keyakinan serupa Trump melancarkan perang pada 28 Februari, dan berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, serta Komandan Garda Revolusi (IRGC) Mohammad Pakpour.

Tapi Iran berbeda dengan Venezuela. Semula AS berharap dengan gugurnya Khamenei dan para petinggi Iran lainnya, rakyat negeri itu akan berontak sehingga terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Namun, tindakan membunuh pemimpin Iran itu justru membuat rakyat Iran bersatu melawan AS-Israel. Iran meluncurkan ribuan drone ke berbagai pangkalan militer AS di Teluk. Inilah titik penentu kemenangan Iran dalam perang antara si kecil melawan raksasa tangguh bersenjata lengkap laksana David melawan Goliat.

Iran menjalankan skrenario perang atrisi sekaligus asimetris: melancarkan perang berlarut dan menyasar perekonomian AS maupun Israel yang harus membiayai perang berbiaya tinggi. Serangan udara menggunakan drone berharga hanya Rp 400 juta pe drone harus dibayar AS-Israel dengan meluncurkan rudal penangkis berharga Rp 60 miliar per rudal. Pada sisi lain, perang asimetris dilancarkan oleh proksi Iran di Lebanon melalui Hisbullah dan di Yaman menggunakan Houthi: menganggu lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Bab el Mandeb.




(rfs/rfs)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kerusakan akibat serangan AS-Israel di Iran capai Rp4,6 kuadriliun
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Indonesia dan Vietnam kuasai Grup A usai menang telak
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Kalah Praperadilan, Status Tersangka Sekjen DPR Indra Iskandar Gugur
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Uni Eropa Gandakan Tarif Baja Jadi 50 Persen di Tengah Banjir Impor China
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Puan: Infrastruktur Pendidikan Merata adalah Hak Dasar Anak
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.