Mbah Kibar di Sleman, Penjual Lukisan demi Bayar Utang Keluarga Rp 500 Juta

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

"Saya profesional saja, saya nggak perlu dibantu sedekah. Saya masih mampu untuk melukis. Saya mau selesaikan masalah ini dengan lukisan saya," kata tersebut terucap dari seorang kakek dalam sebuah video yang viral di media sosial.

Kakek itu adalah Suhardiyono alias Mbah Kibar. Usianya sudah 76 tahun. Pelukis ini tengah dalam kesulitan. Tanah pekarangan warisan mbah buyutnya di Banguntapan, Kabupaten Bantul, terancam disita bank.

Sertifikat tanahnya dijadikan agunan di bank oleh keluarganya. Kini utang yang ditanggung oleh Mbah Kibar sekitar lebih dari Rp 500 juta.

"Untuk menyelesaikan masalah utang piutang. Sebenarnya bukan saya yang salah, saudara-saudara yang makai uang, makai nama saya dipinjamkan di bank. Yang jelas ya nggak apa-apa itu harus saya selesaikan. Ya dengan karya saya," kata Mbah Kibar saat ditemui di sebuah rumah di Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Selasa (14/4).

Dua bulan terakhir, Mbah Kibar tinggal di rumah tersebut. Rumah yang dia tempati merupakan milik Guru Besar UGM Prof. Ali Agus. Ini karena rumah Mbah Kibar yang berada tepat di samping tanah pekarangan yang jadi objek utang sudah roboh di sana-sini. Di rumahnya, dulu Mbah Kibar tinggal sendirian.

Tak hanya tempat tinggal, Prof. Ali juga memfasilitasi kehidupan hingga peralatan Mbah Kibar berkarya seperti kanvas.

Di sini pula, Mbah Kibar diberi bantuan sumber daya manusia. Ada tim yang membantu menjual karya-karya lukisannya melalui media sosial, yang kemudian videonya menjadi perhatian masyarakat luas.

"Intinya saya ya karena saking bingungnya, akhirnya teman saya punya inisiatif dibuat lewat medsos, ya jadi itu," katanya.

Di ruang tengah rumah ini, terpajang sejumlah lukisan Mbah Kibar. Di antaranya lukisan Presiden Pertama RI Soekarno berbagai ukuran, Gadjah Mada, Pangeran Diponegoro, hingga tokoh nasional saat ini seperti Presiden Prabowo Subianto dengan kucingnya dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ada pula lukisan Bunda Teresa, biarawati Katolik dan misionaris India berdarah Albania. Beberapa lukisan masih tersimpan di rumahnya di Banguntapan, Bantul.

Mbah Kibar bercerita banyak pula lukisannya yang digelapkan oleh temannya yang tidak bertanggung jawab.

"Saya banyak yang diambil orang, sampai hari ini banyak yang dibawa teman nggak balik. Ada 21 lukisan. Tapi nggak apa-apa. Kapan-kapan pasti ketemu. Selain berdoa pada Tuhan, ditemukan yang terbaik," katanya.

Salah satu lukisan yang ditampilkan di media sosial dan mendapat banyak respons adalah lukisan Soekarno. Mbah Kibar mengatakan lukisan itu sudah dia buat cukup lama. Proses melukisnya sekitar satu minggu.

"Ini ya seminggu selesai. Ini tidak baru, udah agak lama," katanya.

Saat ini waktu yang diberikan bank tinggal dua bulan. Mbah Kibar berharap lukisannya bisa segera laku dan tanggungan di bank bisa segera diselesaikan.

"Ini baru tawar-menawar," katanya.

Cinta Melukis Sejak Kecil

Mbah Kibar berkisah dirinya sejak kecil suka melukis. Menjadi pelukis adalah cita-citanya sejak kecil.

"Saya sering melihat kalau Pak Affandi (pelukis) demo melukis. Saya nonton," katanya.

Dia sebenarnya ingin seperti Affandi melukis ekspresionisme. Tapi gaya itu membutuhkan banyak cat. Lalu Kibar memilih realis.

"Semua saya coba. Gaya Affandi (saya coba), wah ini boros. Saya membatik juga pernah. Tapi yang saya sukai lukis. Saya jatuh cinta pada realis karena realis itu semua bisa menikmati," katanya.

Tergerak Membantu Mbah Kibar

Tim pendamping Mbah Kibar, Atsir Mahatma Adam, mengatakan awalnya Mbah Kibar datang ke kediaman Prof. Ali menjelaskan tentang kondisinya, dari tempat tinggal yang sudah tak layak huni hingga persoalan yang dihadapi.

"Prof. Ali kemudian menunjuk saya. Saya adalah tim riset di Pak Ali. Saya ditunjuk untuk coba kawal Pak Kibar ini ada apa sebenarnya. Saya kawal sampai akhirnya ketemu dengan pihak bank," kata Adam.

Tentang tanah yang jadi agunan di bank memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Bank telah memberikan waktu tambahan hingga akhir Mei ini untuk Mbah Kibar mencari uang sebanyak Rp 536 juta yang tiap bulan bertambah bunganya.

"Sekarang mungkin sudah di Rp 556 juta," katanya.

Adam menegaskan tim pendamping ini tidak akan mengambil sepeser pun hasil penjualan karya lukis Mbah Kibar.

Selama dua bulan pertama mendampingi Mbah Kibar, Adam mencoba menawarkan lukisan ke kenalan-kenalannya, tapi tidak membuahkan hasil karena dirinya bukan ahli di bidang lukisan.

"Sampai akhirnya di sisa dua bulan terakhir ini saya izin sama pihak bank. Kita sudah upayakan yang terbaik selama dua bulan terakhir ini tidak ada titik terang, minta izin untuk kami viralkan masalah ini di media sosial. Akhirnya saya inisiasi ambil video itu dan ternyata viral," katanya.

Sejauh ini sudah ada banyak penawar. Ada yang serius, ada pula yang menawar rendah di angka Rp 300 ribu. Namun, ada pula yang serius menawar hingga puluhan juta rupiah.

"Lukisan Gibran sudah ditawar Rp 37 juta. Ini (Soekarno) sudah ditawar Rp 42 juta," katanya.

Adam mengatakan hasil diskusi dengan Mbah Kibar ada kemungkinan akan dibuka opsi lelang.

"Penawaran terakhir itu tadi akan kita jadikan harga pembuka di lelang yang kita gelar bersama dengan Kementerian Kebudayaan. Kita coba jalur lelang," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Imipas tekankan pemberdayaan warga binaan dalam WCPP ke-7
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Hypermart (MPPA) Bidik Rights Issue Rp1,2 Triliun, Intip Harga Pelaksanaan dan Rasio HMETD
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Parpol Bisa Sponsori Nama Halte dan Stasiun di Jakarta, Pramono Siapkan Aturan
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Lebanon-Israel Akan Bertemu di AS, Harapan Damai Tipis
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Negosiasi Buntu! Kronologi Trump Blokade Selat Hormuz
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.