Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas), Agus Andrianto, secara resmi membuka The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) di Bali International Convention Center, Selasa (14/4). Acara tersebut diselenggarakan pada 14-17 April 2026.
Pada penyelenggaraan tahun ini, WCPP mengusung tema "Getting Smart on Justice: Healing Hearts, and Safer Societies". Acara itu menjadi momen penegasan komitmen Indonesia dalam mendorong transformasi sistem pemasyarakatan menuju pendekatan keadilan restoratif yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Menteri Agus menerangkan tema tersebut mencerminkan dinamika sistem pemasyarakatan saat ini yang bergerak menuju pendekatan yang lebih cerdas dan berbasis data.
“Sistem pemasyarakatan tidak lagi semata tentang pemenjaraan, tetapi juga tentang pemulihan,” tegas Agus dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan restorative justice. Hukum tidak lagi berorientasi pada pembalasan, melainkan pada reintegrasi sosial.
“Pemulihan tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga korban dan masyarakat, sehingga dapat memulihkan hubungan sosial yang sempat terputus,” tuturnya.
Dalam konteks safer society, eks Wakapolri itu menyoroti peran strategis Balai Pemasyarakatan melalui pembimbingan dan pengawasan untuk memutus mata rantai residivisme serta menciptakan harmoni antara masyarakat dan penegak hukum.
Selain itu, Agus menegaskan bahwa WCPP merupakan forum strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan pemasyarakatan dari berbagai negara untuk saling bertukar pengalaman, merumuskan model pembinaan yang ideal, serta menghasilkan rekomendasi sebagai rujukan praktik terbaik di tingkat global.
Forum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penguatan sistem pemasyarakatan, khususnya dalam pengembangan pidana alternatif dan pembebasan bersyarat.
Pada kesempatan ini, Agus mengatakan, pihaknya menyoroti tingginya komitmen global. Terdapat delegasi dari berbagai negara ke WCPP meski di tengah dinamika dan eskalasi geopolitik dunia. Ia menyebut kepercayaan kepada Indonesia sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
“Dipilihnya Bali tidak terlepas dari nilai budayanya yang merepresentasikan wajah Indonesia, di mana kearifan lokal berjalan seiring dengan kemajuan zaman,” ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi dukungan Pemprov Bali serta menyoroti keterlibatan Warga Binaan dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan, termasuk melalui produk-produk yang dipamerkan kepada delegasi internasional.
“Hal ini diharapkan menjadi motivasi bagi Warga Binaan untuk terus produktif sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia juga membuka ruang untuk mendapatkan masukan dari berbagai negara terkait pola pembinaan, seiring dengan perubahan paradigma pemidanaan yang kini bergeser dari pendekatan pemenjaraan menuju pembinaan, pemulihan, dan kerja sosial, sebagaimana juga tercermin dalam pembaruan KUHP dan KUHAP.
WCPP Forum PentingSementara itu, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra yang hadir sebagai keynote speaker menegaskan bahwa tidak ada satu model sistem pemasyarakatan yang dapat diterapkan secara universal. Oleh karena itu, forum seperti WCPP menjadi penting sebagai ruang dialog lintas negara untuk saling belajar dan memperkaya kebijakan nasional.
Ia juga menekankan bahwa sistem keadilan modern harus mampu menyeimbangkan antara penegakan hukum, perlindungan korban, keselamatan publik, serta peluang reintegrasi bagi pelaku. Dalam konteks tersebut, penguatan pembimbingan kemasyarakatan menjadi bagian penting dari reformasi sistem peradilan pidana yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Kongres ini diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari 44 negara yang terdiri dari praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan di bidang pemasyarakatan. Selama empat hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai agenda, mulai dari sesi pleno, diskusi tematik, hingga pertukaran praktik terbaik.
Forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi internasional sekaligus mendorong terwujudnya sistem keadilan yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pemulihan di berbagai negara.
Penyelenggaraan WCPP di Bali turut menampilkan hasil karya Warga Binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian. Produk-produk tersebut mendapat perhatian dari para delegasi dan diharapkan dapat membuka peluang promosi di tingkat internasional.





