Jakarta, VIVA – Di balik gemerlap panggung dan citra kuat yang melekat pada Rossa, tersimpan cerita yang tak banyak diketahui publik. Diva yang telah berkarier lebih dari tiga dekade ini kini tengah menghadapi tekanan mental akibat gelombang fitnah yang beredar luas di media sosial.
Isu yang menyeret namanya bukan sekadar gosip ringan. Narasi yang menyebut dirinya gagal menjalani operasi plastik terus bermunculan dan menyebar tanpa kendali. Kondisi ini pun berdampak langsung pada kesehatan psikis sang penyanyi. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Juru Bicara sekaligus Penasihat Hukum tim manajemen Rossa, M. Ikhsan Tualeka, menegaskan bahwa dampak yang dirasakan kliennya sangat nyata.
"Beliau terganggu secara psikis karena namanya manusia. Kita semualah, apalagi beliau yang telah membangun karier lebih dari 30 tahun kemudian orang menyampaikan berita bohong atau fitnah," kata Ikhsan Tualeka saat konferensi pers di Jakarta, baru-baru ini.
Tekanan tersebut terasa semakin berat karena hadir di ruang yang sangat personal. Media sosial, yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan hiburan, justru berubah menjadi sumber stres yang datang setiap hari.
"Anda bisa bayangkan, bagaimana seseorang bangun pagi kemudian media sosialnya atau media sosial yang muncul di handphone-nya itu kemudian berseliweran sesuatu yang tidak berdasar pada fakta," beber Ikhsan Tualeka.
Pihak manajemen pun menyayangkan perilaku sebagian pengguna media sosial yang dinilai terlalu mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Padahal, reputasi seorang Rossa dibangun melalui perjalanan panjang yang penuh kerja keras, bukan sesuatu yang bisa dirusak begitu saja oleh opini tak berdasar.
Kuasa hukum lainnya, Natalia Rusli, menilai kasus ini sebagai refleksi penting bagi masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak.
"Ini adalah pengajaran, bahwa tidak mudah seseorang itu mengangkat dirinya sampai di level seorang diva. Dan tiba-tiba seenaknya kita pakai jempol kita mencet-mencet," tutur Natalia Rusli.
Menghadapi situasi tersebut, Rossa tidak memilih diam. Ia mengambil langkah hukum sebagai bentuk perlindungan diri sekaligus upaya menghentikan penyebaran informasi yang dinilai merugikan.





