JAKARTA, KOMPAS.TV - Pakar Militer dan Intelijen dari Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta menyampaikan pandangannya mengenai blokade Selat Hormuz yang dilakukan Amerika Serikat (AS).
Ia menyinggung mengenai ancaman Presiden AS Donald Trump yang dilontarkan berulang kali seperti ingin menduduki Iran, perang darat, menerjunkan pasukan lintas udara (linud), hingga pendaratan pantai. Tetapi, hal itu belum terjadi.
"Jadi, saya melihat bahwa Iran itu bukan negara yang mudah diancam. Ketika dia diancam, dia akan membalas juga dengan ancaman," katanya dalam program Sapa Indonesia Malam KompasTV, Selasa (14/4/2026).
Stanislaus mengatakan Iran bukan negara kecil yang ketika diancam, lalu akan tunduk. Menurutnya, Iran merupakan salah satu negara dengan tingkat ketahanan cukup tinggi yang sudah biasa diancam dan ditekan.
Menangggapi ancaman AS tersebut, kata dia, maka sikap Iran akan balik melawan.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Irak Andalkan Truk Ekspor Minyak via Suriah | KOMPAS MALAM
"Nah, ini problemnya adalah ketika nanti Iran menanggapi ini, kemudian Amerika benar-benar melakukan blokade, ini dampaknya kan bukan hanya pada Iran dan Amerika, dampaknya seluruh dunia," ujarnya.
Stanislaus mengaku khawatir ketika benar-benar terjadi blokade oleh AS, kemudian 20 persen lalu lintas minyak dunia melalui Selai Hormuz terhambat, maka dampaknya akan memperburuk ekonomi global.
"Itu dampaknya (blokade) terhadap ekonomi dunia sangat buruk saya kira. Dan ini harus dicegah," ucapnya.
Dilansir dari AP News, Trump mengatakan pada Senin (13/4) bahwa militer Amerika telah memulai blokade pelabuhan Iran.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV, AP News
- iran
- as
- amerika serikat
- selat hormuz
- blokade selat hormuz
- blokade as





