Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.135 pada Selasa, 14 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 13 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.122 pada perdagangan Senin, 13 April 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 15 April 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.123 per dolar AS. Posisi itu menguat 4 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.127 per dolar AS.
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, meningkatnya ketidakpastian global membuat dunia usaha dalam fase wait and see, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Penurunan ekspektasi kegiatan bisnis dan stagnasi penjualan mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil keputusan ekspansi," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 15 April 2026.
Meski demikian, ekspansi bisnis dinilai tidak berhenti, namun mengalami penyesuaian strategi. Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal, sambil fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital.
Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi.
Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II-2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga.
Untuk mendorong ekspansi, diperlukan kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk kebijakan yang konsisten, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk memperkuat daya saing.





