Liputan6.com, Jakarta - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan peringatan serius mengenai kondisi stabilitas ekonomi dunia yang kian mengkhawatirkan. Dia menyoroti eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sebagai faktor utama yang dapat memicu keterpurukan ekonomi global dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat memberikan pidato dalam acara Supermentor-28 On Leadership yang digelar di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4/2026) malam. Di hadapan para peserta, SBY menekankan pentingnya kesadaran kolektif dari para pemimpin dunia untuk mencegah terjadinya keruntuhan ekonomi.
Advertisement
Menurut SBY, situasi hari ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh negara, termasuk Indonesia. Dia menilai, jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut tanpa ada solusi konkret, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat dunia melalui sektor ekonomi yang memburuk.
"Saya kira semua tahu, ada dunia ekonomi. Sekarang hati-hati, kalau perang tidak segera berakhir di Timur Tengah, barangkali nasib dunia, terutama perekonomian dunia, akan sungguh buruk," kata SBY dalam pidatonya.
SBY menjelaskan, tercapainya kesepakatan damai pun tidak serta-merta langsung memulihkan kondisi. Diperlukan proses transisi dan waktu yang tidak sebentar bagi dunia untuk menstabilkan kembali roda perekonomian yang sempat terguncang akibat konflik tersebut.
"Kalau perang berakhir, kalau deal bisa dicapai di Islamabad, tidak berarti kita sudah kembali normal. Perlu waktu, sekian bulan, to stabilize, to normalize our global economy. Apalagi kalau tidak, bisa dibayangkan," jelasnya.




