Drama Besar PSIS Semarang! Di Tengah Ancaman Degradasi Pelatih Andri Ramawi Justru Mengundurkan Diri, Apa yang Terjadi?

harianfajar
13 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR, SEMARANG – Ada yang terjadi dengan PSIS Semarang? Tiba-tiba muncul drama besar. Di tengah ancaman degradasi, Pelatih Kepala Andri Ramawi justru memilih mengundurkan diri. Ironisnya, kompetisi Championship (Liga 2) musim 2025/2026 menyisakan tiga laga.

Kepastian hengkangnya pelatih asal Lubuk Pakam ini diumumkan langsung melalui akun Instagram resmi klub, @psisfcofficial, pada Rabu (15/4/2026) pagi. Sebagai langkah darurat, manajemen menunjuk sang asisten pelatih, Anang Dwita, untuk menjadi caretaker di sisa musim ini.

“Matursuwun Coach Andri. Pelatih Andri Ramawi mengundurkan diri dari jabatan pelatih kepala PSIS Semarang dan sementara tim akan dipimpin oleh caretaker asisten pelatih Anang Dwita. Terimakasih atas dedikasi selama membesut Laskar Mahesa Jenar,” tulis pernyataan resmi klub.

Panser-Snex Meradang

Keputusan mundur yang mendadak ini memicu gelombang protes dan tanda tanya besar dari para pendukung setia, Panser Biru dan Snex. Banyak yang menyayangkan keputusan tersebut karena performa Andri sebenarnya tidak buruk, serta timing yang dianggap tidak bertanggung jawab karena kompetisi sedang di masa genting.

Kolom komentar media sosial klub pun banjir reaksi keras:

“Track recordnya bagus dari hasil kenapa diganti? Hmmm,” ujar akun @satrioputro16.

“Drama opo meneh iki,” cetus @psiscorner penuh curiga.

“Lah kok ISO wayahe genting mundur,” tulis @panjol225 keheranan.

“Kurang 3 match lo, lepas tanggung jawab,” timpal @m.bkti08 dengan nada kecewa.

Rekam Jejak di Semarang

Perjalanan karier Andri Ramawi di Semarang tergolong sangat singkat. Pelatih berusia 39 tahun ini baru bergabung pada 14 Februari 2026 untuk menggantikan Jafri Sastra. Ia datang atas rekomendasi Direktur Teknik, Alfredo Vera, mengingat kedekatan keduanya saat masih membela panji Persipura Jayapura.

Namun, kolaborasi ini hanya bertahan dalam 6 pertandingan. Dalam durasi singkat tersebut, Andri sebenarnya memberikan harapan dengan torehan 2 kemenangan, 3 seri, dan hanya 1 kali kalah. Meski performanya relatif stabil, ia memilih meletakkan jabatan saat PSIS masih tertahan di urutan ke-8 klasemen dengan 20 poin.

Sebagai catatan, kursi pelatih PSIS musim ini memang bak “kursi panas”. Andri Ramawi merupakan sosok keempat setelah sebelumnya tim ditangani oleh Kahudi Wahyu, Ega Raka, dan Jafri Sastra.

3 Laga Sisa yang Menentukan Nasib

Kini, beban berat ada di pundak Anang Dwita. Tugasnya tak main-main: menyelamatkan PSIS agar tidak turun kasta ke Liga 3. Laskar Mahesa Jenar masih harus menghadapi tiga partai hidup-mati melawan: Persipura Jayapura, Kendal Tornado FC, dan PSS Sleman.

Profil Andri Ramawi

Di balik keputusannya yang mengejutkan untuk mundur dari PSIS Semarang, Andri Ramawi sebenarnya memiliki profil yang cukup mentereng di kancah sepak bola nasional. Lahir di Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara pada 23 Mei 1986, pria berusia 39 tahun ini bukan sekadar pelatih musiman.

Ia merupakan pemegang lisensi A AFC, sebuah kualifikasi tinggi yang menunjukkan pemahaman taktik dan manajemen tim yang mumpuni. Di bawah naungan APS Agency, Andri dikenal sebagai pelatih modern yang menonjolkan kedekatan personal, terutama dalam membimbing pemain-pemain muda untuk mencapai potensi maksimal mereka.

Dari Pakar Fisik hingga Juru Taktik

Perjalanan karier Andri Ramawi sangat berwarna, mencakup berbagai peran krusial mulai dari spesialis fisik hingga dipercaya sebagai juru taktik utama di klub-klub besar Indonesia:

Persiba Bantul: Ia sempat menjadi idola publik Bantul saat menakhodai tim di Liga 3. Andri hampir saja membawa Laskar Sultan Agung promosi ke Liga 2, sebelum akhirnya langkah mereka terhenti secara dramatis lewat adu penalti melawan PSGC Ciamis.

Persis Solo: Di Kota Bengawan, ia memiliki peran ganda yang vital, yakni menjabat sebagai Pelatih Kepala Persis Solo U-20 sekaligus menjadi pelatih fisik bagi tim senior Laskar Sambernyawa.

Barito Putera: Andri memiliki sejarah panjang bersama Laskar Antasari. Ia pernah menangani tim Barito Putera U-19, sektor Youth, hingga naik kelas menjadi asisten pelatih tim senior.

Persipura Jayapura: Pengalamannya semakin matang saat menjabat sebagai asisten pelatih di tim raksasa Papua, Mutiara Hitam. Di sinilah kedekatannya dengan figur seperti Alfredo Vera mulai terbentuk.

PON Kalsel: Di level regional, ia dipercaya untuk menangani kondisi fisik tim sepak bola Kalimantan Selatan dalam ajang bergengsi Pekan Olahraga Nasional (PON).

Dengan portofolio yang mencakup pembinaan usia muda hingga tim senior di kasta tertinggi, tidak heran jika pengunduran dirinya dari PSIS Semarang di saat kritis seperti sekarang meninggalkan lubang besar yang sulit ditambal. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meski Sudah Ada Pompa dan Turap, Banjir Masih Ancam Warga Citra Prima Serpong
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Identitasnya Dikantongi, 4 Begal Damkar di Gambir yang Masih Buron Diburu Polisi
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Foto: Menko Pangan Zulhas Tinjau Kesiapan Koperasi Merah Putih di Bekasi
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Punya Bos Baru, BPJS Kesehatan Langsung Buka Layanan Pandawa 24 Jam
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Trump: Tolong Beri Tahu Paus Leo, Iran Telah Membunuh 42.000 Demonstran
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.