VIVA – Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan 'nyinyiran' yang menyudutkan Paus Leo XIV. Trump sebelumnya menilai Paus Leo sebagai pemimpin "lemah" dan "buruk untuk kebijakan Luar negeri."
Kali ini, Trump pada Selasa, 14 April 2026, mendesak Paus Leo untuk mengutuk Iran atas kematian para demonstran -- merujuk aksi demonstrasi yang terjadi di Iran pada Desember 2025 hingga awal tahun 2026 yang menewaskan ribuan orang.
Trump mengatakan bahwa Paus Leo harus diberitahu bahwa Iran telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran tak bersenjata dalam dua bulan terakhir dan bahwa Teheran tidak boleh diizinkan untuk memperoleh bom nuklir.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah unggahan di Truth Social saat perseteruan publiknya dengan Paus mengenai perang melawan Iran terus berlanjut.
"Bisakah seseorang memberi tahu Paus Leo bahwa Iran telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran tak bersenjata yang tidak bersalah dalam dua bulan terakhir, dan bahwa Iran memiliki bom nuklir sama sekali tidak dapat diterima," tulis Trump.
Unggahan tersebut muncul setelah Paus Leo mengkritik perang dan menyerukan perdamaian, yang menuai kritik dari Trump dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Trump sebelumnya menegaskan tidak akan mundur dari perseteruannya dengan Paus Leo XIV dan menilai Paus Leo "salah dalam isu-isu tersebut" dan tidak seharusnya ikut campur dalam urusan politik. Ia menegaskan tidak berniat meminta maaf kepada Leo.
Trump melancarkan serangan verbal terhadap pemimpin Gereja Katolik Vatikan Paus Leo XIV, menyusul seruannya untuk penghentian perang di Iran dan mendesak para pemimpin dunia untuk dialog dibandingkan aksi militer, seolah mengkritik kebijakan arogan Trump yang terus pamer kekuatan dan memaksa perang.
"Cukup dengan penyembahan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuatan! Cukup dengan perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dengan melayani kehidupan," kata Paus dalam doa bersama di Basilika Santo Petrus, Sabtu, 11 April 2026.
Namun Trump menyerang Paus Leo karena dinilai "LEMAH dalam penanganan kejahatan", dan "buruk untuk Kebijakan Luar Negeri."
"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak menginginkan Paus yang berpikir bahwa Amerika menyerang Venezuela itu mengerikan," tulis Trump, dengan alasan bahwa posisi Paus tentang isu-isu global keliru.





