Terkini, Makassar — Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, terselip sebuah pesan sederhana yang mengalir hangat: jangan pernah melupakan kampung halaman.
Pesan itu datang dari dr. Andi “CUA” Nusawarta, putra daerah yang kini mengemban amanah sebagai Komisaris di PT Semen Tonasa.
Baginya, ulang tahun Pangkep bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk menyalakan kembali semangat kolektif membangun daerah.
Dengan nada penuh keyakinan, ia membayangkan Pangkep kembali berdiri di masa jayanya—sebuah daerah yang maju, mandiri, dan menjadi kebanggaan warganya.
“Insya Allah, Pangkep akan kembali berjaya seperti dahulu,” ujarnya.
Namun, harapan itu tak berdiri sendiri. Ia menyertainya dengan ajakan yang tulus: bahwa masa depan Pangkep ada di tangan masyarakatnya, baik yang menetap di kampung halaman maupun yang merantau jauh.
Bagi Andi, merantau bukanlah tentang meninggalkan, melainkan tentang kembali dengan sesuatu yang lebih.
Pengalaman, jejaring, dan keberhasilan yang diraih di luar daerah, menurutnya, adalah bekal untuk membangun kampung sendiri.
“Jangan hanya sukses di luar, tapi lupa kampung sendiri,” katanya, mengingatkan.
Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan kegelisahan yang nyata. Banyak putra daerah yang telah berhasil, namun belum semuanya kembali memberi dampak bagi tanah kelahirannya.
Padahal, ia percaya, membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Hal-hal kecil, mendukung usaha lokal, mengembangkan UMKM, hingga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah adalah fondasi yang tak kalah penting.
Ia membayangkan Pangkep tumbuh dari kekuatan warganya sendiri. Dari tangan-tangan yang bekerja di berbagai bidang, dari ide-ide sederhana yang diwujudkan dengan konsisten.
“Apapun profesi kita, kita bisa berbuat untuk Pangkep,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan satu hal mendasar: cinta terhadap daerah. Dari rasa itulah, lahir kepedulian, tanggung jawab, dan keinginan untuk berkontribusi.
Di usia ke-66 ini, Pangkep bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang, harapan yang terus dijaga, dan masa depan yang sedang dibangun bersama.
“Mari kita bangga jadi orang Pangkep,” ucapnya.
Sebuah ajakan yang terdengar sederhana, namun menyimpan makna mendalam: kampung halaman bukan hanya tempat kita berasal, melainkan bagian dari diri yang tak pernah benar-benar pergi.




