Emansipasi dalam Dialektika dan Makna Baru Sebuah Kebebasan Dalam Kesetaraan Gender

okezone.com
10 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Sekar Widyasari Putri Dosen Digital Bisnis Telkom University Surabaya

EMANSIPASI wanita, kalimat yang seakan menjadi sejarah pencapaian kemenangan tentang kesetaraan gender. Layak disebut kemenangan karena membutuhkan perjalanan dan perjuangan dalam mencapainya. Emansipasi menjadi awal kebebasan dan kesetaraan bagi wanita dalam berpendapat, pendidikan, dan karir untuk mencapai kemandirian finansial. Namun di balik narasi kemenangan terdapat realitas yang kompleks. Kebebasan yang selama ini disuarakan oleh wanita ternyata menimbulkan dilema bagi para wanita itu, mereka menghadapi kontradiksi antara peran profesional dan peran keibuan. Dari kondisi tersebut memunculkan pertanyaan kritis, “apakah emansipasi benar-benar mencapai tujuannya atau justru melahirkan tekanan baru?”.

Sejarah mencapai emansipasi dan dilema emansipasi yang terjadi saat ini mengingatkan pada perspektif dialektika yang dipopulerkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel memiliki pandangan bahwa setiap realitas perubahan sosial adalah sebuah siklus dan selalu dimulai dari konflik antara tesis, antitesis yang menghasilkan sintesis. Dilema emansipasi wanita di era modern tidak dapat dipandang sebagai kontradiksi sederhana, tetapi merupakan bentuk proses historis yang terus berkembang, dapat dikaji sebagai proses dialektika yang belum selesai.

Baca Juga :
Susaningtyas Kertopati: Hari Kartini Bukan Soal Emansipasi tapi Afirmasi pada Diri Perempuan

Siklus Dialektika tahap awal (tesis) terlihat pada periode sebelum tahun 1900-an, Indonesia masih di bawah kolonial Belanda terjadi diskriminasi berdasarkan ras, menempatkan orang Eropa pada tingkatan hierarki tertinggi, kemudian Timur asing (Tionghoa, Arab dan India), pada hierarki terendah adalah Inlander (Pribumi). Diskriminasi membatasi akses pada pendidikan yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan Eropa, Timur asing dan Pribumi kaum bangsawan. Budaya lokal sendiri menciptakan diskriminasi melalui patriarki yaitu hanya kaum bangsawan laki-laki yang diperbolehkan mengenyam pendidikan karena dianggap sebagai penerus kepemimpinan. Bahkan dalam budaya Jawa terdapat pandangan bahwa perempuan adalah “konco wingking” yang memiliki makna harafiah “teman belakang” membuat posisi perempuan dianggap tidak sejajar, berada di belakang laki-laki.

Pandangan tersebut akhirnya menciptakan stigma peran perempuan yang dalam bahasa Jawa diistilahkan “macak (bersolek/menjaga penampilan), masak (memasak dan mengurus rumah), manak (mengurus anak)” sehingga tidak perlu pendidikan tinggi. Adat pingitan juga menghambat perempuan menentukan pilihan masa depannya sendiri karena pada usia 10–12 tahun mereka dipingit untuk dipersiapkan menikah. Tatanan sosial yang terbentuk pada masa itu menjadi nilai yang dianut dan menjadi identitas perempuan dalam masyarakat tradisional.

 

Baca Juga :
Perayaan Hari Kartini sebagai Wujud Perjuangan Emansipasi Wanita


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkot Palembang Evaluasi Uji Coba CFD, Soroti Kemacetan dan Kekurangan Petugas
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Petugas DLH Buang Sampah ke Aliran Sungai di Jaktim, Berujung Kena Sanksi
• 4 jam laludetik.com
thumb
Sungguh Menyedihkan! Ibu Meninggal Dunia, Ayah Menghilang, Saudara-saudaranya Ditinggalkan di Pusat Penitipan Anak
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Menkomdigi: Pandawa 24 Jam Jadi Upaya Digitalisasi Pangkas Inefisiensi Layanan Publik
• 51 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Wacana War Tiket Haji, Ini Respons Pimpinan MUI
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.