Kasus tragis dalam keluarga terus terjadi di Tiongkok. Sepasang kakak-adik di Changchun, Provinsi Jilin, ditinggalkan oleh ayah mereka di tempat penitipan setelah ibunya meninggal dunia. Hingga kini sudah dua tahun. Setelah kasus ini terungkap dan mendapat perhatian publik, pihak berwenang menyatakan telah mengatur agar anak-anak tersebut bisa bersekolah, namun masalah pengasuhan selanjutnya masih menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
EtIndonesia. Menurut laporan media daratan Tiongkok, Zhao Jin, pengelola sebuah tempat penitipan kecil di Distrik Chaoyang, Changchun, mengatakan bahwa kakak perempuan berusia 10 tahun dan adik laki-laki berusia 8 tahun telah ditinggalkan oleh ayah mereka di tempat tersebut sejak dua tahun lalu, dan hingga kini tidak ada kabar lagi dari sang ayah.
Dilaporkan bahwa pada November 2023, ayah anak-anak tersebut, melalui perantara seorang teman, menitipkan kedua anaknya ke tempat penitipan milik Zhao Jin. Saat itu, sang kakak bersekolah di sebuah SD di Distrik Luyuan, sementara adiknya masih di taman kanak-kanak di distrik yang sama.
Zhao Jin mengatakan, “Awalnya kami tidak ingin menerima karena jarak antar-jemput cukup jauh, tetapi karena diperkenalkan oleh teman dan diberi tahu bahwa orang tua mereka sudah bercerai, kami jadi tidak tega.”
Ia juga menjelaskan bahwa ayah anak-anak tersebut mengatakan ibu mereka telah meninggal karena kanker. Karena merasa kasihan, Zhao Jin menurunkan biaya dari 3.000 yuan per bulan per anak menjadi 2.500 yuan, termasuk makan, tempat tinggal di rumahnya, serta antar-jemput sekolah.
Pada Desember 2023, sang ayah bahkan mengurus pengunduran diri anak perempuan dari sekolah, dengan alasan akan membawa anak-anak tersebut ke Jepang untuk tinggal dan belajar. Namun setelah keluar dari sekolah, sang kakak tetap tinggal di tempat penitipan. Selama periode itu, nenek mereka sempat pulang dari Jepang, membawa kedua anak tersebut tinggal di rumah sewaan selama belasan hari, bahkan mengajari mereka sedikit bahasa Jepang, sebelum akhirnya mengembalikan mereka ke tempat penitipan.
Sejak April 2024, ayah anak-anak tersebut mulai terlambat membayar biaya, dan sejak Desember 2024 pembayaran benar-benar terhenti. Pada April 2025, ia mengaku berada di Jepang dan tidak bisa mentransfer uang melalui WeChat. Ia hanya sempat mengirim 4.000 yuan (saat itu sudah menunggak lebih dari 20.000 yuan), lalu benar-benar menghilang tanpa kabar.
Zhao Jin mengatakan bahwa adik laki-laki yang kini berusia 8 tahun sudah memasuki usia untuk mendaftar sekolah dasar, namun bahkan tidak memiliki dokumen kependudukan dasar. Sementara kakaknya yang berusia sekitar 10 tahun telah putus sekolah lebih dari dua tahun—di usia yang seharusnya duduk di bangku kelas, ia hanya bisa belajar membaca dan berhitung secara terbatas di tempat penitipan.
Zhao Jin berkata, “Saya juga kesulitan, tapi saya masih berusaha bertahan. Saya berharap bisa menemukan ayah mereka atau kerabat lainnya, karena pendidikan anak adalah hal yang sangat penting.”
Warganet pun ramai berkomentar:
- “Anak-anak ini terlalu kasihan, ini termasuk penelantaran.”
- “Sangat tidak masuk akal.”
- “Terlalu kejam.”
- “Ini sebenarnya seperti anak yatim yang terlantar… kasihan sekali.”
- “Tingkat perceraian di Changchun tinggi, ini bukan satu-satunya kasus… masih banyak yang lebih sulit.”
- “Bukankah ini sudah termasuk anak tanpa pengasuh?”
- “Selama dua tahun tidak ada campur tangan dari dinas pendidikan atau organisasi perempuan?”
Setelah kasus ini diberitakan, pihak berwenang setempat menyatakan telah mengatur agar anak-anak tersebut bisa kembali bersekolah. Namun warganet menilai, “Hanya menyelesaikan masalah sekolah saja tidak cukup, yang lebih penting adalah bagaimana pengasuhan mereka ke depan.” (Hui)
Sumber : ntdtv.com





