Sawit Mahal, Petani Riau Tertekan Lonjakan Harga Pupuk

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, PEKANBARU - Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau yang kini menembus Rp4.047 per kilogram untuk TBS usia 10-20 tahun, ternyata belum sepenuhnya membawa angin segar bagi petani. Pasalnya, lonjakan harga pupuk justru menjadi beban baru yang menggerus keuntungan.

Sekretaris Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau Djono Albar Burhan mengatakan meski tren harga sawit sedang positif, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya menguntungkan petani.

“Memang saat ini harga sawit sudah tembus Rp4.047 per kilogram, ini tentu menjadi berkah. Namun di tingkat petani, harga yang diterima hanya sekitar Rp3.000 sampai Rp3.200 per kilogram,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).

Di sisi lain, kenaikan harga pupuk dinilai menjadi persoalan serius yang dihadapi petani saat ini. Menurutnya, harga pupuk justru ikut melonjak saat harga sawit naik, namun tidak ikut turun ketika harga sawit merosot.

“Ketika harga sawit naik, harga pupuk juga ikut naik. Sementara saat harga sawit turun, pupuk tidak ikut turun,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, kondisi tersebut membuat sebagian petani mengurangi penggunaan pupuk karena keterbatasan biaya, yang berpotensi berdampak pada produktivitas ke depan.

Baca Juga

  • Harga TBS Sawit Riau Naik Lagi ke Rp4.116,83 per Kg
  • Bappenas Soroti Potensi Bensin Sawit untuk Hilirisasi dan Program Mandatoir B50
  • Rekor! Harga TBS Sawit Sumut (11/4) Tembus Rp4.110,77 per Kg

“Harga pupuk yang tinggi mengurangi motivasi petani untuk membeli pupuk. Padahal itu sangat penting untuk menjaga produksi,” jelas Djono.

Menurutnya, kenaikan harga pupuk tidak terlepas dari ketergantungan pada bahan impor, khususnya untuk jenis KCL dan fosfat. Namun, ia mempertanyakan kenaikan harga pupuk urea yang diproduksi di dalam negeri.

“Yang menjadi pertanyaan kami, pupuk urea berasal dari dalam negeri, kenapa ikut naik padahal tidak impor,” katanya.

Sementara itu, dari sisi produksi, petani saat ini juga tengah menghadapi musim trek, meski tidak terlalu signifikan. Namun kondisi cuaca yang mulai membaik diharapkan dapat membantu pemulihan produksi.

“Kami bersyukur curah hujan cukup tinggi saat ini, sehingga bisa mengurangi titik panas dan diharapkan produktivitas sawit kembali meningkat,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, pihaknya tetap berharap kenaikan harga sawit dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani, terutama jika diiringi dengan kebijakan yang mampu menekan biaya produksi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
109 Warga Terdampak Banjir di Bandar Lampung Dievakuasi
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bertemu empat mata dengan Macron, Prabowo disambut pasukan kehormatan
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
UNM Buka Program Sandwich ke Yunani, Mahasiswa S2-S3 Bisa Riset Internasional dan Publikasi Global
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kasus penganiayaan, Kompolnas dorong Polri bangun mekanisme pencegahan
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Asing Diam-diam Lepas 10 Saham Ini Kala IHSG Melejit 2%
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.