Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer AS memblokade terhadap kapal dari semua negara yang menuju atau meninggalkan pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Dubes Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah Salem Al Dhaheri mengungkap sampai saat ini Selat Hormuz tidak terblokir.
"Selat Hormuz kini sesungguhnya tidak terblokir. Jalur pelayaran kembali terbuka, dan saya percaya hal itu tidak terlepas dari keterlibatan Amerika Serikat," kata Abdullah kepada wartawan di gedung MP/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Kemudian, Abdullah memastikan produksi minyak negaranya tetap tidak terganggu jika nantinya Selat Hormuz benar-benar terblokir. Ia menyebut ada jalur minyak lain yang dimiliki UEA.
"Menurut saya, seperti yang telah saya sampaikan kepada Yang Mulia sebelumnya, Uni Emirat Arab juga memiliki jalur akses alternatif, di mana minyak dialirkan dari Abu Dhabi ke Fujairah dengan melewati Selat Hormuz. Sebanyak 1,8 juta barel per hari minyak mentah dialirkan melalui Fujairah, ini benar-benar meringankan situasi di UEA," ucap dia.
Namun demikian, ia berharap Iran tidak menjadikan Selat Hormuz sebagai objek tawar-menawar. "Karena Selat Hormuz harus selalu terbuka. Jalur pelayaran harus tetap terbuka sepanjang tahun agar tidak mengganggu pasokan komoditas dan produk ke seluruh dunia," imbuhnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan langkah tersebut bertujuan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
(maa/rfs)





