REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Lonjakan harga plastik akibat konflik geopolitik mulai mengubah arah industri global. Di tengah krisis pasokan, bisnis berbasis keberlanjutan justru menikmati lonjakan permintaan.
Gangguan distribusi minyak dan petrokimia akibat konflik Amerika Serikat dan Iran membuat harga plastik melesat ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Baca Juga
Konsumsi Minyakita Melejit Gara-Gara Harga Plastik Naik, Kok Bisa?
Bulog Jamin Harga Beras Stabil Meski Biaya Kemasan Plastik Naik
Harga Plastik di Jakarta Mahal, Pramono Minta Warga Gunakan Daun Pisang
Kondisi ini mendorong perusahaan mencari alternatif kemasan. Produsen kemasan kosmetik ramah lingkungan asal Korea Selatan, Yonwoo, mencatat permintaan kemasan berbasis kertas melonjak hingga tiga kali lipat.
“Awalnya, ketertarikan pada (kemasan berbahan kertas) berasal dari perusahaan-perusahaan yang fokus pada keberlanjutan, tapi bila masalah plastik berkepanjangan kami memperkirakan permintaan akan terus naik,” kata Senior Manager Kolmar Korea, Kim Min-sang, Rabu (15/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Yonwoo menyuplai kemasan ke sejumlah perusahaan besar, termasuk L’Oreal. Produk berbasis kertas ini hanya menggunakan sekitar 20 persen plastik dibanding kemasan konvensional.
Di sisi lain, Asia sebagai pengguna plastik terbesar dunia mulai mengalami pergeseran. Kawasan ini mengonsumsi sekitar sepertiga plastik global, naik tajam sejak 1990.
Namun tekanan juga dirasakan pelaku usaha. Ritel di Jepang mulai mengantisipasi kelangkaan bahan plastik, termasuk nampan dan kantong.
“Sekarang kami sedang membahas bagaimana menjual produk kami bila sudah tidak ada pemasok nampan plastik sama sekali, saya sangat khawatir, kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Manajer Supermarket Marutake, Kensuke Takahashi.