Harga minyak internasional langsung melonjak sekitar 8% saat pembukaan perdagangan hari ini, sementara kontrak berjangka gas alam naik lebih tajam lagi. Penyebab utamanya adalah gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, yang kemudian diikuti oleh aksi blokade militer AS di Selat Hormuz. Hal ini langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan gas, serta memperburuk krisis energi global.
EtIndonesia. Pada pembukaan perdagangan Senin (13 April), harga minyak langsung melonjak. Minyak mentah Brent sempat naik 8,17% menjadi 102,95 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan melonjak 9,28% menjadi 105,53 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka gas alam di Eropa juga sempat melonjak hingga 18%.
Di saat yang sama, aset safe haven mengalami pergerakan berlawanan. Harga emas spot sempat turun tajam 2,2%, menghapus seluruh kenaikan pada pekan sebelumnya.
Pemicu utama gejolak pasar ini adalah runtuhnya negosiasi antara AS dan Iran. Media Iran menyebut syarat dari pihak AS “terlalu keras”, sementara Wakil Presiden AS menyatakan bahwa fokus utama AS adalah memastikan Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir—namun jaminan tersebut tidak diperoleh.
Komando Pusat AS mengumumkan bahwa mulai Senin pukul 10.00 pagi, akan dilakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa jika blokade tersebut dilawan, AS akan memberikan respons keras. Setiap serangan terhadap pihak AS atau kapal sipil akan “dihancurkan sepenuhnya”. Ia juga menyebut bahwa banyak kapal kosong besar sedang menuju Amerika Serikat untuk memuat minyak mentah dan gas alam berkualitas tinggi, serta menegaskan bahwa minyak AS tidak hanya melimpah, tetapi juga berkualitas lebih baik.
Di pasar keuangan, musim laporan keuangan perusahaan AS resmi dimulai minggu ini. Menurut data FactSet, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 13,2% secara tahunan pada kuartal pertama. Jika melihat tren revisi sebelumnya, angka ini bahkan bisa naik hingga 19%, menjadi yang tertinggi sejak kuartal keempat 2021.
Sektor perbankan akan menjadi pembuka musim laporan keuangan. Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, pendapatan dari aktivitas perdagangan lima bank besar di Wall Street diperkirakan naik 13% secara tahunan, dengan total kemungkinan menembus 40 miliar dolar AS—tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Namun demikian, pasar juga mencermati apakah perusahaan mampu menahan tekanan biaya akibat lonjakan harga energi.
Laporan oleh reporter NTD, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat.





