Penulis: Harry Saktiono
TVRINews, Lamongan
Sejumlah warga yang bermukim di sekitar RSUD dr. Soegiri Lamongan menyampaikan keluhan terkait operasional pembakaran limbah medis di rumah sakit tersebut. Warga mengeluhkan kepulan asap serta abu hasil pembakaran yang dinilai mengganggu kenyamanan dan kebersihan lingkungan.
Warga menyebut, gangguan tidak hanya berupa bau tidak sedap, tetapi juga adanya abu halus yang masuk ke area rumah hingga mengotori lantai dan halaman.
“Selain asap dan bau, abu hitam dari pembakaran juga mengotori lantai halaman dan ruang tamu rumah kami,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (15/4/2026).
Warga juga menyampaikan bahwa laporan terkait kondisi tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait, termasuk pengurus lingkungan, namun hingga kini belum ditemukan solusi yang memuaskan.
Sementara itu, pihak RSUD dr. Soegiri Lamongan memberikan penjelasan bahwa fasilitas pembakaran limbah medis atau insinerator telah memiliki Surat Kelayakan Operasional (SLO) dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan nomor B.88/G/PLB.5.3/02/2026.
Direktur RSUD dr. Soegiri Lamongan, dr. Abdur Rohman, menegaskan bahwa alat tersebut telah melalui proses verifikasi dan uji kelayakan sehingga dinyatakan aman untuk dioperasikan.
“Insinerator kami telah melalui verifikasi lapangan dan uji fungsi yang ketat, sehingga dinyatakan layak beroperasi dan aman bagi lingkungan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, proses pembakaran limbah medis dilakukan pada suhu tinggi, berkisar antara 800 hingga 1.200 derajat Celsius, untuk memastikan limbah infeksius dapat dimusnahkan secara sempurna.
Pihak rumah sakit juga menyatakan telah dilengkapi dengan teknologi pengendalian emisi berupa Water Scrubber, yang berfungsi menyaring gas buang sebelum dilepaskan melalui cerobong setinggi 30 meter.
Terkait keluhan asap pekat pada pagi hari, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari proses pemanasan awal atau pre-heating sebelum insinerator beroperasi penuh.
“Asap yang terlihat pada pagi hari biasanya muncul saat tahap pemanasan selama 0,5 hingga 1 jam sebelum limbah dimasukkan, agar suhu optimal tercapai,” jelasnya.
Selain itu, emisi dari insinerator tersebut disebut dipantau secara berkala setiap enam bulan oleh laboratorium independen terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk memastikan emisi tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Editor: Redaktur TVRINews





