Pantau - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mendorong pemerintah memperkuat diplomasi internasional guna menambah kuota haji Indonesia sebagai solusi atas panjangnya daftar tunggu jamaah.
Upaya Diplomasi untuk Tambah KuotaHidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa langkah diplomasi haji menjadi strategi penting untuk mengatasi antrean panjang jamaah yang terjadi saat ini.
Ia mengatakan, "Diplomasi haji harus dilakukan untuk mendapatkan penambahan kuota, baik melalui komunikasi di level OKI maupun kerja sama dengan negara yang kuotanya tidak terpakai."
Menurutnya, potensi penambahan kuota masih terbuka mengingat jumlah populasi Muslim Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam alokasi kuota yang ada.
Ia menjelaskan bahwa saat ini kuota haji Indonesia masih mengacu pada rasio 1:1.000 dari jumlah penduduk Muslim.
Ia menambahkan, "Kalau memungkinkan, rasio itu bisa ditingkatkan, misalnya menjadi 2:1.000."
Tantangan dan Respons PemerintahHidayat juga mendorong pemerintah menjajaki kerja sama dengan negara lain yang kuota hajinya tidak terserap untuk dialihkan ke Indonesia.
Ia menegaskan, "Ini harus menjadi upaya serius karena antrean haji kita sangat panjang dan membutuhkan solusi konkret."
Selain itu, ia menekankan bahwa setiap penambahan kuota harus tetap mengacu pada ketentuan undang-undang yang berlaku terkait pembagian haji reguler dan khusus.
Ia menyatakan, "Tujuan utama kita adalah memangkas daftar tunggu yang panjang agar masyarakat tidak harus menunggu hingga puluhan tahun untuk berangkat haji."
Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah Moch Irfan Yusuf mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan komunikasi dengan Arab Saudi terkait kemungkinan penggunaan kuota negara lain.
Ia mengungkapkan, "Itu sudah pernah kita jajaki, tapi pemerintah Saudi kayaknya masih belum welcome dengan pola yang ini."
Ia menambahkan bahwa pemerintah akan kembali membahas opsi tersebut dengan pihak Arab Saudi.




